Minggu, 03 Oktober 2010

tulisan

Haruskah gadis-gadis anak petani nasibnya berakhir di ujung sawah: berkubang dalam lumpur tanah dan keringat menuai padi?

Dalam karya berlatar Palembang, Azzura Dayana menghadirkan sosok Ita Anisa, gadis anak petani yang ingin mengubah nasibnya. Kebaikan sebuah keluarga mengantarkan Ita ke kota; ia didorong untuk melanjutkan pendidikan.

Hidup di kota ternyata barulah awal perjuangan Ita. Tinggal bersama seorang anak jalanan yang diasuhnya, melahirkan prasangka tetangga; bahkan dari orang terdekatnya. Saat yang sama, seorang anggota keluarga yang membiayai kuliahnya memiliki rencana jahat kepada orangtuanya di desa. Menyusul kemudian, kehadiran seorang pria misterius yang menawarkan pekerjaan untuknya. Bersamaan dengan pergulatan hidup, Ita pun harus mengambil keputusan penting untuk masa depan hidupnya.

Aku sepakat, Kak Amalia, saat kau mengatakan bahwa ini desa yang indah. Tetapi… sepertinya kau belum pernah bermain dengan orang-orangan sawah, atau membuatnya sambil bergelut dengan jerami di dangau. Kau belum tahu rasanya mandi di telaga sepi nan perawan di pedalaman hutan atau bermain lumpur di sawah Bapak. Kau belum pernah mengintip angsa hutan mandi. Kau belum pernah menggigiti pucuk-pucuk daun hijau rimbun di hutan untuk dimakan. Dan kau… tidak pernah duduk sendirian di bukit kecil yang tersembunyi di belakang tebing perbatasan dengan ratusan bunga ilalang, lalu memandangi matahari yang mau terbenam sementara burung-burung beterbangan hendak pulang melewati atas kepalamu…

Jika kau sudah tahu dan mengalaminya sepertiku, mungkin kau akan bersedia menjadi penjaganya selamanya…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar