SEJARAH AKUNTANSI INTERNASIONAL
Akuntansi memainkan peranan yang sangat penting dalam masyarakat. Sebagai cabang ilmu ekonomi, akuntansi memberikan informasi mengenai suatu perusahaan dan transaksinya untuk memfasilitasi keputusan alokasi sumber daya oleh para pengguna informasi tersehut. Jika informasi yang dilaporkan dapat diandalkan dan bermanfaat, sumber daya yang terbatas tersebut dialokasikan secara optimal, dan sebaliknya alokasi sum berdaya akan menjadi kurang optimal jika informasi kurang andal dan tidak bermanfaat. Akuntansj internasionaltidaklah berbeda dan peranan yang dimaksudkan. Yang membuat studinya berbeda adalah bahwa perusahaan yang dilaporkan adalah perusahaan multinasional (multinational compain, MNC) dengan operasi dan transaksi yang melintasi batas-batas negara, atau suatu perusahaan dengan kewajiban pelaporan kepada para pengguna yang berlokasi di negara selama negara perusahaan pelaporan.
Sejarah akuntansi merupakan sejarah internasional. Kronologi berikuk ini menunjukkan bahwa akuntansi telah meraih keberhasilan besar dalam kemampuanya untuk diterapkan dari satu kondisi ke kondisi lainnya sementara di pihak lain memungkinkan timbulnya pengembangan teres-menerus dalam bidang teori dan praktik di seluruh dunla. Sebagai permulaan, sistem pembukuan berpasangan (doithfe-entru Lookkreping), yang umumnya dianggap sebagai awal penciptaaa akuntansi seperti yang kita ketahui selama ini, berawal dari negam-negah kota di Italia pida abad ke-14 dan 15.
Perkernbangannya didorong oleh pertumbuhan perdagangan intemasional di Italia Utara selama masa akhir abad pertengahan dan keinginan pemerintah untuk menemukan cara dalam mengenakan pajak terhadap transaksi komersial. ”Pembukuan Italia” kemudian berilih ke Jerman untuk membantu para pedagang pada zaman Fugger dan Kelompok Hanseatik. Pada waktu yang hampir bersamaan, para filsuf hitvis di Belanda mempertajam cara menghitung pendapatan periodik dan aparat pemerintah di Prancis menemukan keuntungan menerapkan keseluruhan sistem dalam perencanaan dan akuntabilitas pemerintah.
Perkembangan Inggris Raya menciptakan kebutuhan yang tak terelakkan lagi bagi kepentingan komersial Inggris untuk mengelola dan mengendalikan perusahaan di daerah koloni, dan untuk pencatatan perusahaan kolonial mereka yang akan diperiksa ulang dan diverifikasi. Kebutuhan-kebutuhan mi menyebabkan tumbuhnya masyarakat akuntansi pada tshun 1850-an dan suatu profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris selama tahun 1870-an. Paktik akuntansi laggris memyebar luas tidak hanya di seluruh Amerika Utara, tetapi juga di seluruh wilayah Persemakmuran Inggris yang ada waktu itu.
Perkembangan pembukuan pencatatan berpasangan
Perkembangan tersebut meliputi hal-hal berikut ini :
1. Sekitar abad ke-16 terjadi beberapa perubahan di dalam teknik-teknik pembukuan. Perubahan yang patut dicatat adalah diperkenalkan jurnal-jurnal khusus untuk pencatatan berbagai jenis transaksi yang berbeda.
2. Pada abad ke-16 dan 17 terjadi evolusi pada praktik laporan keuangan periodik. Sebagai tambahan lagi, di abad ke-17 dan abad ke-18 terjadi evolusi pada personifikasi dari seluruh akun dan transaksi, sebagai suatu usaha untuk merasionalisasikan aturan debit dan kredit yang digunakan pada akun-akun yang tidak pasti hubungannya dan abstrak.
3. Penerapan sistem pencatatan berpasangan juga diperluas ke jenis-jenis organisasi yang lain.
4. Abad ke-17 juga mencatat terjadinya penggunaan akun-akun persediaan yang terpisah untuk jenis barang yang berbeda.
5. Dimulai dengan East India Company di abad ke-17 dan selanjutnya diikuti dengan perkembangan dari perusahaan tadi, seiring dengan revolusi industri, akuntansi mendapatkan status yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan adanya kebutuhan akan akuntansi biaya, dan kepercayaan yang diberikan kepada konsep-konsep mengenai kelangsungan, periodisitas, dan akrual.
6. Metode-metode untuk pencatatan aktiva tetap mengalami evolusi pada abad ke-18.
7. Sampai dengan awal abad ke-19, depresiasi untuk aktiva tetap hanya diperhitungkan pada barang dagangan yang tidak terjual.
8. Akuntansi biaya muncul di abad ke-19 sebagai sebuah hasil dari revolusi industri.
9. Pada paruh terakhir dari abad ke-19 terjadi perkembangan pada teknik-teknik akuntansi untuk pembayaran dibayar di muka dan akrual, sebagai cara untuk memungkinkan dilakukannya perhitungan dari laba periodik.
10. Akhir abad ke-19 dan ke-20 terjadi perkembangan pada laporan dana.
11. Di abad ke-20 terjadi perkembangan pada metode-metode akuntansi untuk isu-isu kompleks, mulai dari perhitungan laba per saham, akuntansi untuk perhitungan bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa jangka panjang dan pensiun, sampai kepada masalah penting dari akuntansi sebagai produk baru dari rekayasa keuangan (financial engineering).
PERKEMBANGAN PRINSIP-PRINSIP AKUNTANSI DI AMERIKA SERIKAT
1 Tahap kontribusi manajemen (1900-1933)
Pengaruh manajemen di dalam formulasi prinsip-prinsip akuntansi muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan peranan ekonomi dominan yang dimainkan oleh perusahaan-perusahaan industri setelah tahun 1900. Pemain utama pada masa itu adalah asosiasi akuntan profesional, American Institute of Accountans (AIA).
Posisi dari AIA atas permintaan dari Komisi Dagang Federal (Fedeal Trade Commission-FTC) adalah bahwa “tidak ada biaya penjualan, beban bunga atau beban administrasi di dalam biaya overhead pabrik”. Penentang atas posisi dari Institut ini menghadapi pernyataan di dalam laporan yang mengatakan “diperhitungkannya bunga di dalam biaya produksi adalah teori yang tidak berdasar dan salah, dan dapat dikatakan mustahil (absurad) di dalam praktiknya”. Pihak yang menentang pun mengalami kekalahan. Kejadian penting yang lain dimasa itu adalah meningkatnya dampak dari teori akuntansi terhadap perpajakan atas laba usaha. Meskipun Undang-Undang pendapatan tahun 1913 telah memberikan dasar kalkulasi laba kena pajak dengan dasar penerimaan dan pengeluaran kas, Undang-Undang tahun 1918 adalah yang pertama mengakui peranan dari prosedur akuntansi di dalam penentuan laba kena pajak.
2 Tahap kontribusi institusi (1933-1959)
1. Pada tahun 1934, Kongres menciptakan SEC dengan tugas untuk mengelola beragam hukum-hukum investasi federal, termasuk Undang-Undang Sekuritas pada tahun 1933 yang mengatur penerbitan sekuritas di pasar-pasar antarnegara bagian dan Undang-undang Sekuritas tahun 1934 yang mengatur perdagangan sekuritas.
2. Setelah publikasi yang dilakukan oleh Ripley di dalam satu artikel yang mengkritik teknik-teknik pelaporan sebagai sesuatu yang memperdayakan, George O. May, kebangsaan Inggris, mengusulkan agar Institut Akuntan Publik Bersertifikat Amerika (American Institute of Certified Public Accountant-AICPA) memulai sebuah usaha kerja sama dengan bursa efek. Sebagai akibatnya, Komite Khusus dari AICPA melalui kerja sama dengan Bursa Efek menyarankan solusi umum berikut ini :
Alternatif yang lebih pratikal adalah membiarkan setiap perusahaan untuk bebas memilih metode-metode akuntansinya sendiri di dalam …batasan yang sangat luas…namun mengharuskan adanya pengungkapan dari metode yang dipergunakan dan konsistensi pengaplikasiannya dari tahun ke tahun..
Sebagai tambahan, Komite mengusulkan percobaan resminya yang pertama untuk mengembangkan teknik-teknik akuntansi yang berlaku umum. Dikenal sebagai “prinsip-prinsip umum” (board principles).
3. Setelah diterbitkannya ASR No. 4 oleh SEC, yang menantang profesi akuntan untuk memberikan “dukungan substansial dari yang berwenang” bagi prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku, dan meningkatnya kecaman dari Asosiasi Akuntansi Amerika (American Accounting Association) dan para anggotanya yang baru saja dibentuk, Institut selanjutnya di tahun 1938 memutuskan memberikan kuasa kepada Komite Prosedur Akuntansi (Committee Accounting Procedure-CAP) untuk mengumumkan keputusannya.
3 Tahap politisasi (1973-sekarang)
Keterbatasan yang dimiliki oleh baik asosiasi profesional maupun manajemen di dalam memformulasikan suatu teori akuntansi telah mengarah kepada pengadopsian suatu pendekatan yang lebih deduktif sekaligus melakukan politisasi atas proses penetapan standarnya-sebuah situasi yang diciptakan oleh pandangan yang berlaku umum bahwa angka-angka akuntansi memengaruhi prilaku berekonomi dan, sebagai konsekuensinya, aturan-aturan akuntansi hendaknya dibuat di dalam arena politik.
Sejak awal, FASB telah menerapkan sebuah pendekatan deduktif dan quasi politik dalam formulasi dari prisnip-prinsip akuntansi. Hal yang dilakukan oleh FASB mendapatkan nilai yang lebih baik, pertama, dengan adanya usaha untuk mengembangkan suatu kerangka kerja teoretis atau kesepakatan dalam akuntansi, dan kedua, dengan lahirnya berbagai kelompok yang berkepentingan, yang kontribusinya diperlukan bagi penerimaan “umum” atas standar baru. Oleh sebab itu, proses penetapan standar memiliki aspek politis di dalamnya.
Proses dari penetapan standar dapat digambarkan sebagai demokratis karena, seperti semua badan pembuat peraturan, hak Dewan untuk membuat peraturan pada akhirnya akan sangat bergantung kepada persetujuan dari pihak yang diatur. Tetapi karena penetapan standar membutuhkan beberapa perspektif, maka tidaklah tepat jika suatu standar ditetapkan dengan hanya didasarkan pada penggambaran dari para pemilihnya. Hal yang serupa pula, proses tersebut dapat diuraikan sebagai legislatif karena penetapan standar harus dimusyawarahkan dan karena seluruh pandangan harus didengarkan. Tetapi para penyusun standar diharapkan untuk dapat mewakili seluruh pemilih sebagai satu kesatuan dan tidak menjadi perwakilan dari sekelompok pemilih tertentu. Proses ini dapat diuraikan sebagai bersifat politis karena terdapat satu usaha pembelajaran yang terkait dengan usaha untuk mendapatkan penerimaan satu standar baru.
Nama : Dewi Novi Handayani
Kelas: 4EB04
Npm : 20207307
http://tyochovalent.blogspot.com/2011/02/sejarah-akuntansi-internasional.html
Kamis, 17 Februari 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Paper Kelompok (dewi novi handayani)
Where Were The Accountants ?
“Sam, I’m really in trouble. I’ve always wanted to be an accountant. But here I am just about to apply to the accounting firms for a job after graduation from the university, and i’am not sure i want to be an accountant after all.”
“Why, Norm? In all those accounting courses we took together , you worked super hard because you were really interested. What’s your problrm now?
“Well,I’ve been reading the business newspapers, reports, and accounting journals lately, and things just don’t add up. For instance, you know how we have always been told that accountants have expertise in measurement and disclosure, that they are supossed to prepare reports with integrity, and that they ought to root out fraud if they suspect it ? Well, it doesn’t look like they have been doing a good job .At least, they haven’t been doing what I would have expected.”
“Remember, Norm, we’re still students with a lot to learn. Maybe you are missing something. What have you been redaing abook?”
“OK,Sam, here are a few stories for you to think about :
1. In this article, “Accountants and the S & L Crisis, “Which was in Management Accounting in Februari 1993, I found the argument that the $200 million fiasco was due to the regulators and to a downturn in the real estate market, not to accounting fraud.....but i don’t buy it entirely. According to this article, rising interest rates and fixed lending rates resulted in negative cash flow at the same time as a decline in value of the real estate market reduced the value underlying S & L loan assets. As a result, the net worth of many S & Ls fell, and regulators decided to change some accounting practices to make it appear that the S & Ls fell, and regulators decided to change some accounting practices to make it appear that the S & Ls were still above the minimum capital requirements mandates to protecs depositors’s funds. Just look at this list of the seven accounting practices or problems that were cited :
- Write – off of losses on loans sold over the life of the loan rather than when the loss occurred,
- Use of goverment - issued Net Worth Certificates to be counted as S & L capital,
- Use of detals involving up front money and near – term cash flow, which would bolster current earnings at the expense of later,
- Inadequate loan loss provisions due to poor loan monitoring,
- Write-off of goodwill created on the merger of sound S & Ls with bankrupt S & Ls over a forty- year period,
- Write-ups of owned property based on appraisal values, and
- Lack of market-based reporting to reflect economic reality.
The problem, for me, is that many of these practices are not in accord with generally accepted accounting principles (GAAP) and yet the accountants went along – at least they didn’t object or improve their practices enough to change the outcome. Why not ? Where were the accountants ?
2. “I am also concerned about the expertise the accounting profession claims to have in terms of measurement and disclosure. For example, recently there have been many articles on the health costs created by smoking, yet there are no accountants involved. For instance. A may 1994 report by the center on addiction and substance abuse will cost the medicare $20 billion in inpatient hospital costs alone “ and that tobacco accounts for 80 percent of those hospitalization. Over the next twenty years, substance abuse will cost the medicare program $1 trillion. No wonder the trustees of the medicare trust fund released a report on april 21” predicting that the fund would run out of money in seven years. “ These are important issues. Why do we have to wait for economists and special interest groups to make these calculations ? Shouldn’t accountants be able to make them and lend credibility and balance in the process ? Wouldn’t society benefit ? Where were the accountants ?
3. “ What about the finding of fraud ? are auditors doing enough to prevent and catch fraudulent behavior ? I know what our professors say:
Auditors can’t be expected to cacth everything ; their job is not to search for fraud unless suspicions are aroused during other activities; and their primary task is to audit the financial statements. But aren’t the auditors just reacting to discovered problems, when they could be proactive ? Couldn’t they stress the importance of using codes of conduct and the encouragement of emloyees to bring forward their concerns over unethical acts ? Why is proactive management appropiate in some other areas, such as ironing out personnel problems, but reactive behaviour is appropriate when dealing with fraud ? Reactive behaviour will just close the barn door after the horse has been stolen. In the case of the bank of credit & commerce international (BCCI), for example, at least $1.7 billion was missing.”
“ I guess I’m having second thoughts about becoming a professional accountant. Can you help me out, Sam ? “
Question
1. What would you tell norm ?
Dimana Apakah The Akuntan?
"Sam, aku benar-benar dalam kesulitan. Aku selalu ingin menjadi seorang akuntan. Tapi di sini saya hanya akan berlaku untuk perusahaan akuntansi pekerjaan setelah lulus dari universitas, dan I'am saya tidak yakin ingin menjadi seorang akuntan setelah semua. "
"Kenapa, Norm? Dalam semua program akuntansi kami mengambil bersama, Anda bekerja keras super karena Anda benar-benar tertarik. Apa problrm Anda sekarang?
"Yah, aku sudah membaca koran bisnis, laporan, dan akuntansi jurnal akhir-akhir ini, dan hal-hal hanya tidak menambahkan. Misalnya, Anda tahu bagaimana kita selalu diberitahu bahwa akuntan memiliki keahlian dalam pengukuran dan pengungkapan, bahwa mereka supossed untuk menyiapkan laporan dengan integritas, dan bahwa mereka harus membasmi penipuan jika mereka mencurigai hal itu? Yah, tidak terlihat seperti mereka telah melakukan pekerjaan yang baik Setidaknya, mereka belum melakukan apa yang saya harapkan.. "
"Ingat, Norm, kita masih mahasiswa dengan banyak belajar. Mungkin anda melewatkan sesuatu. Apa yang telah kamu telah redaing abook? "
"Oke, Sam, berikut adalah beberapa cerita bagi Anda untuk berpikir tentang:
1. Dalam artikel ini, "Akuntan dan S & L Krisis," Yang berada di Akuntansi Manajemen pada bulan Februari 1993, saya menemukan dalil bahwa kegagalan $ 200 juta karena regulator dan penurunan di pasar real estat, bukan untuk akuntansi penipuan ..... tapi saya tidak membelinya sepenuhnya. Menurut artikel ini, suku bunga naik dan suku bunga kredit tetap mengakibatkan arus kas negatif pada saat yang sama sebagai penurunan nilai pasar real estat mengurangi nilai yang mendasari S & L aset kredit. Sebagai hasilnya, nilai bersih banyak S & L jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls masih di atas modal mandat persyaratan minimum untuk protecs dana deposan's. Coba lihat daftar tujuh praktik akuntansi atau permasalahan yang dikutip:
- Menulis - off kerugian kredit yang dijual selama masa pinjaman daripada ketika kerugian tersebut terjadi,
- Penggunaan pemerintah - dikeluarkan Bersih Worth Sertifikat akan dihitung sebagai modal S & L,
- Penggunaan detals melibatkan uang depan dan dekat - arus kas jangka panjang, yang akan meningkatkan laba saat ini dengan mengorbankan kemudian,
- Ketentuan yang tidak memadai kerugian pinjaman karena pemantauan pinjaman miskin,
- Penghapusan goodwill dibuat pada penggabungan suara S & L dengan S bangkrut & L selama empat puluh tahun,
- Write-up dari harta yang dimiliki berdasarkan nilai-nilai penilaian, dan
- Kurangnya pelaporan berbasis pasar untuk mencerminkan realitas ekonomi.
Masalahnya, bagi saya, adalah bahwa banyak dari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP), namun akuntan pergi bersama - setidaknya mereka tidak objek atau meningkatkan praktik mereka cukup untuk mengubah hasilnya. Mengapa tidak? Di mana para akuntan?
2. "Saya juga prihatin tentang keahlian profesi akuntansi mengklaim telah dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh, baru-baru ini ada banyak artikel mengenai biaya kesehatan diciptakan oleh merokok, namun tidak ada akuntan yang terlibat. Sebagai contoh. Sebuah laporan 1994 dapat oleh pusat pada kecanduan dan penyalahgunaan zat akan biaya perawatan kesehatan $ 20 miliar pada biaya rawat inap rumah sakit sendirian "dan bahwa rekening tembakau untuk 80 persen dari rumah sakit tersebut. Selama dua puluh tahun ke depan, penyalahgunaan zat akan biaya program perawatan kesehatan $ 1 triliun. Tak heran wali dari dana perwalian perawatan kesehatan merilis sebuah laporan pada April 21 "memprediksi bahwa dana akan kehabisan uang di tujuh tahun. "Ini adalah isu-isu penting. Mengapa kita harus menunggu untuk ekonom dan kelompok kepentingan khusus untuk membuat perhitungan? tidak Haruskah akuntan dapat membuat mereka dan memberikan kredibilitas dan keseimbangan dalam proses? Bukankah manfaat bagi masyarakat? Di mana para akuntan?
3. "Bagaimana dengan temuan penipuan? adalah auditor berbuat cukup untuk mencegah dan menangkap perilaku penipuan? Aku tahu apa yang dosen kita berkata:
Auditor tidak dapat diharapkan untuk segala cacth; tugas mereka bukan untuk mencari penipuan kecuali kecurigaan yang terangsang selama kegiatan lainnya, dan tugas utama mereka adalah untuk mengaudit laporan keuangan. Tapi bukan auditor hanya bereaksi terhadap masalah ditemukan, ketika mereka bisa proaktif? Tidak dapat mereka menekankan pentingnya menggunakan kode etik dan dorongan dari emloyees untuk membawa maju keprihatinan mereka atas tindakan tidak etis? Mengapa manajemen proaktif sesuai dalam beberapa daerah lain, seperti menyetrika masalah-masalah personel, tetapi perilaku reaktif sesuai ketika berhadapan dengan penipuan? perilaku reaktif hanya akan menutup pintu gudang setelah kuda itu telah dicuri. Dalam hal bank kredit & perdagangan internasional (BCCI), misalnya, setidaknya $ 1700000000 hilang. "
"Saya kira saya berubah pikiran tentang menjadi seorang akuntan profesional. Dapatkah Anda membantu saya keluar, Sam? "
Pertanyaan
1. Apa yang akan Anda katakan norma?
“Sam, I’m really in trouble. I’ve always wanted to be an accountant. But here I am just about to apply to the accounting firms for a job after graduation from the university, and i’am not sure i want to be an accountant after all.”
“Why, Norm? In all those accounting courses we took together , you worked super hard because you were really interested. What’s your problrm now?
“Well,I’ve been reading the business newspapers, reports, and accounting journals lately, and things just don’t add up. For instance, you know how we have always been told that accountants have expertise in measurement and disclosure, that they are supossed to prepare reports with integrity, and that they ought to root out fraud if they suspect it ? Well, it doesn’t look like they have been doing a good job .At least, they haven’t been doing what I would have expected.”
“Remember, Norm, we’re still students with a lot to learn. Maybe you are missing something. What have you been redaing abook?”
“OK,Sam, here are a few stories for you to think about :
1. In this article, “Accountants and the S & L Crisis, “Which was in Management Accounting in Februari 1993, I found the argument that the $200 million fiasco was due to the regulators and to a downturn in the real estate market, not to accounting fraud.....but i don’t buy it entirely. According to this article, rising interest rates and fixed lending rates resulted in negative cash flow at the same time as a decline in value of the real estate market reduced the value underlying S & L loan assets. As a result, the net worth of many S & Ls fell, and regulators decided to change some accounting practices to make it appear that the S & Ls fell, and regulators decided to change some accounting practices to make it appear that the S & Ls were still above the minimum capital requirements mandates to protecs depositors’s funds. Just look at this list of the seven accounting practices or problems that were cited :
- Write – off of losses on loans sold over the life of the loan rather than when the loss occurred,
- Use of goverment - issued Net Worth Certificates to be counted as S & L capital,
- Use of detals involving up front money and near – term cash flow, which would bolster current earnings at the expense of later,
- Inadequate loan loss provisions due to poor loan monitoring,
- Write-off of goodwill created on the merger of sound S & Ls with bankrupt S & Ls over a forty- year period,
- Write-ups of owned property based on appraisal values, and
- Lack of market-based reporting to reflect economic reality.
The problem, for me, is that many of these practices are not in accord with generally accepted accounting principles (GAAP) and yet the accountants went along – at least they didn’t object or improve their practices enough to change the outcome. Why not ? Where were the accountants ?
2. “I am also concerned about the expertise the accounting profession claims to have in terms of measurement and disclosure. For example, recently there have been many articles on the health costs created by smoking, yet there are no accountants involved. For instance. A may 1994 report by the center on addiction and substance abuse will cost the medicare $20 billion in inpatient hospital costs alone “ and that tobacco accounts for 80 percent of those hospitalization. Over the next twenty years, substance abuse will cost the medicare program $1 trillion. No wonder the trustees of the medicare trust fund released a report on april 21” predicting that the fund would run out of money in seven years. “ These are important issues. Why do we have to wait for economists and special interest groups to make these calculations ? Shouldn’t accountants be able to make them and lend credibility and balance in the process ? Wouldn’t society benefit ? Where were the accountants ?
3. “ What about the finding of fraud ? are auditors doing enough to prevent and catch fraudulent behavior ? I know what our professors say:
Auditors can’t be expected to cacth everything ; their job is not to search for fraud unless suspicions are aroused during other activities; and their primary task is to audit the financial statements. But aren’t the auditors just reacting to discovered problems, when they could be proactive ? Couldn’t they stress the importance of using codes of conduct and the encouragement of emloyees to bring forward their concerns over unethical acts ? Why is proactive management appropiate in some other areas, such as ironing out personnel problems, but reactive behaviour is appropriate when dealing with fraud ? Reactive behaviour will just close the barn door after the horse has been stolen. In the case of the bank of credit & commerce international (BCCI), for example, at least $1.7 billion was missing.”
“ I guess I’m having second thoughts about becoming a professional accountant. Can you help me out, Sam ? “
Question
1. What would you tell norm ?
Dimana Apakah The Akuntan?
"Sam, aku benar-benar dalam kesulitan. Aku selalu ingin menjadi seorang akuntan. Tapi di sini saya hanya akan berlaku untuk perusahaan akuntansi pekerjaan setelah lulus dari universitas, dan I'am saya tidak yakin ingin menjadi seorang akuntan setelah semua. "
"Kenapa, Norm? Dalam semua program akuntansi kami mengambil bersama, Anda bekerja keras super karena Anda benar-benar tertarik. Apa problrm Anda sekarang?
"Yah, aku sudah membaca koran bisnis, laporan, dan akuntansi jurnal akhir-akhir ini, dan hal-hal hanya tidak menambahkan. Misalnya, Anda tahu bagaimana kita selalu diberitahu bahwa akuntan memiliki keahlian dalam pengukuran dan pengungkapan, bahwa mereka supossed untuk menyiapkan laporan dengan integritas, dan bahwa mereka harus membasmi penipuan jika mereka mencurigai hal itu? Yah, tidak terlihat seperti mereka telah melakukan pekerjaan yang baik Setidaknya, mereka belum melakukan apa yang saya harapkan.. "
"Ingat, Norm, kita masih mahasiswa dengan banyak belajar. Mungkin anda melewatkan sesuatu. Apa yang telah kamu telah redaing abook? "
"Oke, Sam, berikut adalah beberapa cerita bagi Anda untuk berpikir tentang:
1. Dalam artikel ini, "Akuntan dan S & L Krisis," Yang berada di Akuntansi Manajemen pada bulan Februari 1993, saya menemukan dalil bahwa kegagalan $ 200 juta karena regulator dan penurunan di pasar real estat, bukan untuk akuntansi penipuan ..... tapi saya tidak membelinya sepenuhnya. Menurut artikel ini, suku bunga naik dan suku bunga kredit tetap mengakibatkan arus kas negatif pada saat yang sama sebagai penurunan nilai pasar real estat mengurangi nilai yang mendasari S & L aset kredit. Sebagai hasilnya, nilai bersih banyak S & L jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls jatuh, dan regulator memutuskan untuk mengubah beberapa praktek akuntansi untuk membuatnya tampak bahwa S & Ls masih di atas modal mandat persyaratan minimum untuk protecs dana deposan's. Coba lihat daftar tujuh praktik akuntansi atau permasalahan yang dikutip:
- Menulis - off kerugian kredit yang dijual selama masa pinjaman daripada ketika kerugian tersebut terjadi,
- Penggunaan pemerintah - dikeluarkan Bersih Worth Sertifikat akan dihitung sebagai modal S & L,
- Penggunaan detals melibatkan uang depan dan dekat - arus kas jangka panjang, yang akan meningkatkan laba saat ini dengan mengorbankan kemudian,
- Ketentuan yang tidak memadai kerugian pinjaman karena pemantauan pinjaman miskin,
- Penghapusan goodwill dibuat pada penggabungan suara S & L dengan S bangkrut & L selama empat puluh tahun,
- Write-up dari harta yang dimiliki berdasarkan nilai-nilai penilaian, dan
- Kurangnya pelaporan berbasis pasar untuk mencerminkan realitas ekonomi.
Masalahnya, bagi saya, adalah bahwa banyak dari praktek-praktek yang tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP), namun akuntan pergi bersama - setidaknya mereka tidak objek atau meningkatkan praktik mereka cukup untuk mengubah hasilnya. Mengapa tidak? Di mana para akuntan?
2. "Saya juga prihatin tentang keahlian profesi akuntansi mengklaim telah dalam hal pengukuran dan pengungkapan. Sebagai contoh, baru-baru ini ada banyak artikel mengenai biaya kesehatan diciptakan oleh merokok, namun tidak ada akuntan yang terlibat. Sebagai contoh. Sebuah laporan 1994 dapat oleh pusat pada kecanduan dan penyalahgunaan zat akan biaya perawatan kesehatan $ 20 miliar pada biaya rawat inap rumah sakit sendirian "dan bahwa rekening tembakau untuk 80 persen dari rumah sakit tersebut. Selama dua puluh tahun ke depan, penyalahgunaan zat akan biaya program perawatan kesehatan $ 1 triliun. Tak heran wali dari dana perwalian perawatan kesehatan merilis sebuah laporan pada April 21 "memprediksi bahwa dana akan kehabisan uang di tujuh tahun. "Ini adalah isu-isu penting. Mengapa kita harus menunggu untuk ekonom dan kelompok kepentingan khusus untuk membuat perhitungan? tidak Haruskah akuntan dapat membuat mereka dan memberikan kredibilitas dan keseimbangan dalam proses? Bukankah manfaat bagi masyarakat? Di mana para akuntan?
3. "Bagaimana dengan temuan penipuan? adalah auditor berbuat cukup untuk mencegah dan menangkap perilaku penipuan? Aku tahu apa yang dosen kita berkata:
Auditor tidak dapat diharapkan untuk segala cacth; tugas mereka bukan untuk mencari penipuan kecuali kecurigaan yang terangsang selama kegiatan lainnya, dan tugas utama mereka adalah untuk mengaudit laporan keuangan. Tapi bukan auditor hanya bereaksi terhadap masalah ditemukan, ketika mereka bisa proaktif? Tidak dapat mereka menekankan pentingnya menggunakan kode etik dan dorongan dari emloyees untuk membawa maju keprihatinan mereka atas tindakan tidak etis? Mengapa manajemen proaktif sesuai dalam beberapa daerah lain, seperti menyetrika masalah-masalah personel, tetapi perilaku reaktif sesuai ketika berhadapan dengan penipuan? perilaku reaktif hanya akan menutup pintu gudang setelah kuda itu telah dicuri. Dalam hal bank kredit & perdagangan internasional (BCCI), misalnya, setidaknya $ 1700000000 hilang. "
"Saya kira saya berubah pikiran tentang menjadi seorang akuntan profesional. Dapatkah Anda membantu saya keluar, Sam? "
Pertanyaan
1. Apa yang akan Anda katakan norma?
CURRICULUM VITAE
CURRICULUM VITAE
• BIODATA
Nama Lengkap : Dewi Novi Handayani
Tempat dan tanggal lahir : Sukabumi,01 November 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Perum Mangkalaya Rt 03/Rw 05
Kelurahan: Cibolang
Kecamatan: GUNUNG GURUH
Sukabumi 43121
Tlp/Hp : 085697651818
Email : dewiwie83@yahoo.com
• PENDIDIKAN FORMAL
1. TK.NUR 1995
2. SD Negeri Paku Jajar CBM 2001
3. SMP Negeri 9 KoTa Sukabumi 2004
4. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi 2007
5. Sedang Berkuliah di Universitas Gunadarma Depok Jenjang S1 Jurusan
Ekonomi Akuntansi
• KEAHLIAN YANG DIMILIKI
1. Dapat Membuat Laporan Keuangan
Saya menyatakan bahwa data di atas diisi dengan sebenar-benarnya dan lengkap
• BIODATA
Nama Lengkap : Dewi Novi Handayani
Tempat dan tanggal lahir : Sukabumi,01 November 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Perum Mangkalaya Rt 03/Rw 05
Kelurahan: Cibolang
Kecamatan: GUNUNG GURUH
Sukabumi 43121
Tlp/Hp : 085697651818
Email : dewiwie83@yahoo.com
• PENDIDIKAN FORMAL
1. TK.NUR 1995
2. SD Negeri Paku Jajar CBM 2001
3. SMP Negeri 9 KoTa Sukabumi 2004
4. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi 2007
5. Sedang Berkuliah di Universitas Gunadarma Depok Jenjang S1 Jurusan
Ekonomi Akuntansi
• KEAHLIAN YANG DIMILIKI
1. Dapat Membuat Laporan Keuangan
Saya menyatakan bahwa data di atas diisi dengan sebenar-benarnya dan lengkap
CURRICULUM VITAE
CURRICULUM VITAE
• BIODATA
Nama Lengkap : Dewi Novi Handayani
Tempat dan tanggal lahir : Sukabumi,01 November 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Perum Mangkalaya Rt 03/Rw 05
Kelurahan: Cibolang
Kecamatan: GUNUNG GURUH
Sukabumi 43121
Tlp/Hp : 085697651818
Email : dewiwie83@yahoo.com
• PENDIDIKAN FORMAL
1. TK.NUR 1995
2. SD Negeri Paku Jajar CBM 2001
3. SMP Negeri 9 KoTa Sukabumi 2004
4. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi 2007
5. Sedang Berkuliah di Universitas Gunadarma Depok Jenjang S1 Jurusan
Ekonomi Akuntansi
• KEAHLIAN YANG DIMILIKI
1. Dapat Membuat Laporan Keuangan
Saya menyatakan bahwa data di atas diisi dengan sebenar-benarnya dan lengkap
• BIODATA
Nama Lengkap : Dewi Novi Handayani
Tempat dan tanggal lahir : Sukabumi,01 November 1989
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Perum Mangkalaya Rt 03/Rw 05
Kelurahan: Cibolang
Kecamatan: GUNUNG GURUH
Sukabumi 43121
Tlp/Hp : 085697651818
Email : dewiwie83@yahoo.com
• PENDIDIKAN FORMAL
1. TK.NUR 1995
2. SD Negeri Paku Jajar CBM 2001
3. SMP Negeri 9 KoTa Sukabumi 2004
4. SMA Negeri 1 Kota Sukabumi 2007
5. Sedang Berkuliah di Universitas Gunadarma Depok Jenjang S1 Jurusan
Ekonomi Akuntansi
• KEAHLIAN YANG DIMILIKI
1. Dapat Membuat Laporan Keuangan
Saya menyatakan bahwa data di atas diisi dengan sebenar-benarnya dan lengkap
KAP Ernst & Young(THE BIG 4)
Jenis : Perusahaan anggota mempunyai bentuk legal yang bervariasi, AS dan Britania: Limited Liability Partnership.
Industri : Jasa profesional
Didirikan : 1989; komponen individual dari 1849
Kantor pusat : London, Inggris, Britania Raya
Tokoh penting : James S. Turley, Direktur dan CEO
Produk : Audit, Perpajakan, Konsultasi
Pendapatan : 24.523 juta Dolar AS (2008)
Karyawan : 135.730 (Global)
Divisi : Assurance, Tax, Transactions, Advisory
Situs web : www.ey.com
Ernst & Young (EY atau E&Y) adalah perusahaan jasa profesional yang merupakan salah satu dari the Big Four auditors, bersama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC), Deloitte Touche Tohmatsu (Deloitte), dan KPMG.
Ernst & Young merupakan perusahaan global yang terdiri dari sejumlah perusahaan anggota. EY Global bermarkas di London, EY AS di New York, dan EY Indonesia di Jakarta.
SEJARAH
Perusahaan (persekutuan/perserikatan) ini merupakan hasil dari serangkaian merger dari perusahaan-perusahaan pendahulunya. Persekutuan yang tertua didirikan pada tahun 1849 di Inggris dengan nama Harding & Pullein. Pada tahun itu juga, Frederick Whinney bergabung. Dia kemudian menjadi partner pada tahun 1859. Pada tahun 1894, seiring dengan bergabungnya anak-anaknya, persekutuan tersebut berganti nama menjadi Whinney, Smith & Whinney.
Kemudian, Pada tahun 1903, perusahaan Ernst & Ernst didirikan di Cleveland oleh Alwin dan Theodore Ernst. Pada tahun 1906, Arthur Young & Company didirikan di Chicago oleh Arthur Young. Pada awal tahun 1924, perusahaan-perusahaan AS tersebut beraliansi dengan perusahaan dari Britania Raya, Young dengan Broad Paterson & Co, dan Ernst dengan Whinney, Smith & Whinney. Pada 1979, Ernst & Whinney terbentuk dan menjadi firma akuntansi keempat terbesar di dunia. Pada tahun 1989, peringkat empat bergabung dengan peringkat lima, Arthur Young, sehingga tercipta Ernst & Young ("EY"). Ini adalah sejarah singkat tentang Ernst & Young di Amerika.
Sejarah singkat di Indonesia adalah, Di Indonesia, EY berafiliasi dengan Kantor Akuntan Publik Purwantono, Suherman & Surja (PSS). Klien utama Ernst & Young antara lain Pertamina, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Krakatau Steel & Group, Coca Cola Bottling Indonesia & Indosat.
Struktur global
Setiap negara anggota EY dikelola sebagai bagian dari salah satu dari lima wilayah:
• Eropa, Timur Tengah, India & Afrika (EMEIA)
• Amerika
• Timur Jauh
• Oseania
• Jepang
Setiap wilayah memiliki sebuah tim manajemen tunggal, dipimpin oleh seorang Area Managing Partner yang duduk dalam Dewan Eksekutif Global (Global Executive Board). Seluruh wilayah mengintegrasikan model bisnis mereka.
Lini jasa dan pertumbuhan
EY memiliki empat lini jasa utama:
• Assurance, yaitu audit keuangan (assurance pokok) yang menyumbangkan 54% dari total pendapatan pada 2007.
• Tax, meliputi Business Tax Compliance, Human Capital, Indirect Tax, International Tax Services, Tax Accounting & Risk Advisory Services, dan Transaction Tax, dengan kontribusi pendapatan pada 2007 sebesar 22%.
• Transactions meliputi due diligence komersial, keuangan, real estat, dan pajak, merger & akuisisi, penilaian & pemodelan bisnis, restrukturisasi korporasi, dan jasa integrasi. Dikenal sebagai Transaction Advisory Services (TAS).
• Advisory, meliputi Technology and Security Risk Services (TSRS), Fraud Investigation and Dispute Services (FIDS), dan Business Risk Services (BRS). Sebelumnya lini jasa ini disatukan dengan Assurance dalam Assurance and Advisory Business Services (AABS). Lini jasa ini menyumbangkan 12% pendapatan pada 2007.
Bisnis jasa konsultasi EY berkembang sangat pesat selama tahun 1980-an dan 1990-an. Oleh karenanya U.S. Securities and Exchange Commission (Bapepam Amerika Serikat) dan anggota komunitas investasi sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara jasa konsultasi dan audit. Namun demikian, EY adalah yang pertama dari the Big Four auditors yang kemudian secara resmi melakukan pemisahan secara penuh atas kegiatan bisnis sistem integrasi dan praktek auditnya.
Klien audit global besar
Ernst & Young adalah auditor dari banyak perusahaan utama di Fortune 1000 seperti AOL Time Warner, Wal-Mart, Amazon.com, 3M, Oracle, McDonald’s, Google, Intel, Hewlett-Packard, Coca-Cola, dan Verizon.
Sumber : www.wikipedia.org
TUGAS
Industri : Jasa profesional
Didirikan : 1989; komponen individual dari 1849
Kantor pusat : London, Inggris, Britania Raya
Tokoh penting : James S. Turley, Direktur dan CEO
Produk : Audit, Perpajakan, Konsultasi
Pendapatan : 24.523 juta Dolar AS (2008)
Karyawan : 135.730 (Global)
Divisi : Assurance, Tax, Transactions, Advisory
Situs web : www.ey.com
Ernst & Young (EY atau E&Y) adalah perusahaan jasa profesional yang merupakan salah satu dari the Big Four auditors, bersama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC), Deloitte Touche Tohmatsu (Deloitte), dan KPMG.
Ernst & Young merupakan perusahaan global yang terdiri dari sejumlah perusahaan anggota. EY Global bermarkas di London, EY AS di New York, dan EY Indonesia di Jakarta.
SEJARAH
Perusahaan (persekutuan/perserikatan) ini merupakan hasil dari serangkaian merger dari perusahaan-perusahaan pendahulunya. Persekutuan yang tertua didirikan pada tahun 1849 di Inggris dengan nama Harding & Pullein. Pada tahun itu juga, Frederick Whinney bergabung. Dia kemudian menjadi partner pada tahun 1859. Pada tahun 1894, seiring dengan bergabungnya anak-anaknya, persekutuan tersebut berganti nama menjadi Whinney, Smith & Whinney.
Kemudian, Pada tahun 1903, perusahaan Ernst & Ernst didirikan di Cleveland oleh Alwin dan Theodore Ernst. Pada tahun 1906, Arthur Young & Company didirikan di Chicago oleh Arthur Young. Pada awal tahun 1924, perusahaan-perusahaan AS tersebut beraliansi dengan perusahaan dari Britania Raya, Young dengan Broad Paterson & Co, dan Ernst dengan Whinney, Smith & Whinney. Pada 1979, Ernst & Whinney terbentuk dan menjadi firma akuntansi keempat terbesar di dunia. Pada tahun 1989, peringkat empat bergabung dengan peringkat lima, Arthur Young, sehingga tercipta Ernst & Young ("EY"). Ini adalah sejarah singkat tentang Ernst & Young di Amerika.
Sejarah singkat di Indonesia adalah, Di Indonesia, EY berafiliasi dengan Kantor Akuntan Publik Purwantono, Suherman & Surja (PSS). Klien utama Ernst & Young antara lain Pertamina, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Krakatau Steel & Group, Coca Cola Bottling Indonesia & Indosat.
Struktur global
Setiap negara anggota EY dikelola sebagai bagian dari salah satu dari lima wilayah:
• Eropa, Timur Tengah, India & Afrika (EMEIA)
• Amerika
• Timur Jauh
• Oseania
• Jepang
Setiap wilayah memiliki sebuah tim manajemen tunggal, dipimpin oleh seorang Area Managing Partner yang duduk dalam Dewan Eksekutif Global (Global Executive Board). Seluruh wilayah mengintegrasikan model bisnis mereka.
Lini jasa dan pertumbuhan
EY memiliki empat lini jasa utama:
• Assurance, yaitu audit keuangan (assurance pokok) yang menyumbangkan 54% dari total pendapatan pada 2007.
• Tax, meliputi Business Tax Compliance, Human Capital, Indirect Tax, International Tax Services, Tax Accounting & Risk Advisory Services, dan Transaction Tax, dengan kontribusi pendapatan pada 2007 sebesar 22%.
• Transactions meliputi due diligence komersial, keuangan, real estat, dan pajak, merger & akuisisi, penilaian & pemodelan bisnis, restrukturisasi korporasi, dan jasa integrasi. Dikenal sebagai Transaction Advisory Services (TAS).
• Advisory, meliputi Technology and Security Risk Services (TSRS), Fraud Investigation and Dispute Services (FIDS), dan Business Risk Services (BRS). Sebelumnya lini jasa ini disatukan dengan Assurance dalam Assurance and Advisory Business Services (AABS). Lini jasa ini menyumbangkan 12% pendapatan pada 2007.
Bisnis jasa konsultasi EY berkembang sangat pesat selama tahun 1980-an dan 1990-an. Oleh karenanya U.S. Securities and Exchange Commission (Bapepam Amerika Serikat) dan anggota komunitas investasi sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara jasa konsultasi dan audit. Namun demikian, EY adalah yang pertama dari the Big Four auditors yang kemudian secara resmi melakukan pemisahan secara penuh atas kegiatan bisnis sistem integrasi dan praktek auditnya.
Klien audit global besar
Ernst & Young adalah auditor dari banyak perusahaan utama di Fortune 1000 seperti AOL Time Warner, Wal-Mart, Amazon.com, 3M, Oracle, McDonald’s, Google, Intel, Hewlett-Packard, Coca-Cola, dan Verizon.
Sumber : www.wikipedia.org
TUGAS
Jurnal PI
Jurnal PI
ABSTRAKS
Dewi Novi Handayani (20207307)
Dewiwie83@yahoo.com
“ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PENJUALAN PADA PD.KALIBATA”
PI Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma 2010
Kata Kunci : Sistem Pengendalian Intern,Sistem Penjualan
(xi + 39 + Lampiran)
Berbagai transaksi usaha dilakukan perusahaan salah satunya transaksi penjualan ke konsumen, transaksi penjualan perlu dikelola dengan sebaik mungkin.
Maka perlu diadakan suatu Sistem Penjualan, tujuannya untuk mengelola perusahaan, dan dibuat suatu prosedur yang ada dalam perusahaan kemudian dari prosedur tersebut kita dapat merancang sebuah sistem penjualan dan dapat mengetahui kelebihan, kekurangganya dari sistem penjualan.
Dengan dilaksanakannya sistem penjualan pada perusahaan, maka diharapkan perusahaan akan dapat menjaga perusahaan, mengecek ketelitian, keandalan data akuntansi, serta untuk mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen perusahaan tersebut, sehingga akan tercipta sebuah sistem yang andal dan dapat bertanggung jawabkan kebenarannya.
Dengan terciptanya sistem yang andal maka berpengaruh terhadap Sistem penjualan pada perusahaan tersebut. penjualan pada perusahaan akan meningkat, dengan kata lain sistem penjualan juga dapat lebih meningkatkan penjualan pada perusahaan.
Daftar Pustaka (2000-2008)
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dewasa ini, mendukung kelancaran perkembangan usaha perusahaan, sehinga data transaksi dapat diolah dan di laporkan dengan cepat. Akibatnya keputusan yang diambil dapat lebih cepat. Berbagai transaksi usaha dilakukan perusahaan salah satunya transaksi penjualan ke konsumen, transaksi penjualan ke konsumen perlu di kelola dengan sebaik mungkin. Maka perlu diadakan suatu sistem pengendalian intern, tujuannya adalah untuk mengamankan harta kekayaan perusahaan dari pemborosan, kecurangan dan tidak efisienan, mengakibatkan ketelitian dan dapat di percayainya data akuntansi, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong akan kepatuhan terhadap kebijakan pemimpin.
Dengan dilaksanakannya sistem pengendalian intern penjualan ini, maka diharapkan perusahaan akan menjaga kekayaan perusahaan, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, serta untuk mendorong efesiensi dan di patuhinya kebijakan manajemen perusahaan tersebut, sehingga akan tercipta sebuah sistem yang andal dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Perusahaan membutuhkan sistem yang akan berperan dalam pemrosesan dan pengolahan data penjualan, yaitu sistem akuntansi penjualan.sistem akuntansi tersebut bertujuan untuk mendukung aktivitas bisnis perusahaan dalam mengelola, memproses data transaksi secara efektif dan efisien. Sistem akuntansi yang disusun untuk suatu perusahaan dapat di proses dengan cara manual atau di proses dengan menggunakan mesin-mesin mulai dengan mesin pembukuan yang sederhana.
Sistem penjualan sangat berperan dalam omset penjualan dan mencari pangsa pasar yang lebih luas, karena akan membantu manajemen perusahaan dalam menyediakan informasi yang berkaitan dengan semua kegiatan perusahaan.perusahaan harus dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan dihadapi oleh perusahaan dengan menetapkan kebijakan-kebijakan yang tepat dalam menghadapi persaingan bisnis. Manajer penjualan yang berperan sebagai perencanaan, koordinasi, dan pengendalian kegiatan, sangat memerlukan informasi kegiatan penjualan dan keadaan keuangan perusahaan. Pemakai informasi dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu ekstern dan intern.
Dengan pengendalian intern yang baik ini diharapkan data penjualan yang benar dan dapat dipercaya sehingga informasi penjualan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. dengan begitu, sistem penjualan yang didukung oleh pengendalian intern yang baik, diharapkan akan menghasilkan informasi yang nantinya sangat membantu manajer dalam mengambil kebijakan perusahaan dalam upaya meningkatkan omset penjualan.
Mengingat pentingnya sistem penjualan bagi perusahaan maka perlu dilihat kembali sistem yang telah ditetapkan. sistem penjualan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan.sistem penjualan harus mengikuti prosedur yang ada agar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan, yaitu kebutuhan informasi penjualan.
Dengan adanya berbagai masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam pelaksanaan sistem penjualan, maka pelaksanaan sistem penjualan diperlukan beberapa perbaikan-perbaikan sehingga akan mampu menghasilkan informasi yang akurat, yang nantinya akan berguna bagi manajemen perusahaan dalam pengambilan perusahaan.
Untuk memberikan nilai suatu barang, perusahaan dapat mengunakan metode harga jual, dengan cara melihat biaya produksi, tingkat kepuasan suatu konsumen dan tingkat penjualan produk tersebut. Maka perusahaan dapat menetukan kwantitas dan kwalitas barang tersebut. Dengan demkian perusahaan tersebut dapat melihat laba/rugi produk tersebut.
Dengan terciptanya sebuah sistem yang andal maka berpengaruh terhadap penjualan pada perusahaan tersebut, penjualan pada perusahaan akan meningkat, dengan kata lain sistem pengendalian intern juga dapat meningkatkan penjualan pada perusahaan atas dasar uraian diatas maka penulis menyusun penulisan ilmiah ini dengan judul “Analisis Sistem Pengendalian Intern Penjualan Pada PD.KALIBATA ”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, penulis dirumuskan masalah dalam penulisan ilmiah ini adalah:
1. Bagaimana penerapan sistem penjualan pada PD.KALIBATA
2. Bagaimana sistem penjualan PD.KALIBATA, apakah sudah sesuai dengan Sistem Informasi Akuntansi
1.3 Batasan Masalah
Mengingat terlalu luasnya pembahasan mengenai sistem penjualan maka dalam penulisan ini hanya dibatasi pada suatu prosedur penjualan tunai / kredit dan dibuat rancangan sistem penjualan.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penerapan sistem penjualan pada PD.KALIBATA.
2. Mengetahui sistem penjualan PD.KALIBATA sesuai dengan Sistem Informasi Akuntansi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi didefinisikan sebagai elemen struktur pengendalian sebagai metode dan pencatatan yang ditetapkan untuk mengidentifikasikan, menganalisis, mengklarifikasikan, mencatat dan melaporkan transaksi perusahaan serta mempertahankan tanggung jawab untuk dipercayanya atas aktiva dan hutang. berikut ini adalah pengertian sistem akuntansi menurut beberapa ahli :
Pengertian Sistem Akuntansi Menurut Mulyadi (2001:3)
“Sistem Akuntansi adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan’
Pengertian Sistem Akuntansi Menurut Widjajanto (2001:4)
“Sistem Akuntansi adalah susunan berbagi formulir, catatan, peralatan, termasuk computer dan perlengkapan serta alat komunikasi, tenaga pelaksanaannya dan laporan yang terkodinasi secara erat yang didisain untuk mentraformasikan data keuangan menjadi informasi yang dibutuhkan manajemen”
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi merupakan suatu prosedur yang digunakan dalam menyampaikan data kegiatan perusahaan teruatama yang berhubungan dengan informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan. Adapun unsur dari sistem akuntansi formulir, catatan, peralatan yang digunakan untuk mengolah data dalam mengahasilkan informasi keuangan yang diperlukan oleh manajemen.
Sistem Akuntansi yang efektif harus memenuhi :
a. Mengidentifikasikan dan mencatat transaksi yang valid.
b. Ketetapan waktu dalam pencatatan transaksi dan pengklarifikasian dalam pelaporan keuangan.
c. Pengukuran nilai transaksi dan mencatat dalam nilai yang tepat dalam laporan keuangan.
d. Menunjukan periode transaksi tersebut terjadi dan mencatatnya dalam periode yang benar.
e. Menyajikan secara tepat transaksi dan yang berhubungan dengan pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Bukti transaksi harus ada, karena merupakan fokus dari sistem akuntansi. transaksi meliputi pertukaran aktiva dan jasa diantara kesatuan bisnis dengan pihak luar. Sistem akuntansi perusahaan seharusnya menyediakan/ mempunyai kelengkapan transaksi atau “audit trail” untuk setiap transaksi. Audit trail adalah rantai penyedian bukti dengan kode, perhitungan dan dokumentasi yang dihubungkan dengan saldo dan hasil iktisar dari data keuangan asli.
2.1.1 Manfaat Sistem Akuntansi
Pada hakekatnya perusahaan mempunyai fungsi pada sistem akuntansi, setiap sistem akuntansi akan melaksanakan lima fungsi utamanya yaitu :
a. Mengumpulkan dan menyimpan data dari semua aktivitas dan transaksi perusahaan.
b. Memproses data menjadi informasi yang berguna pihak manajemen.
c. Manajemen data-data yang ada kedalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.
d. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga aset dari suatu organisasi atau perusahaan terjaga.
e. Penghasil informasi yang menyediakan informasi yang cukup bagi pihak manajemen untuk melakukan perencanaan, mengeksekusi perencanaan, dan mengkontrol aktivitas.
Dengan adanya mafaat sistem akuntansi yang memadai, menjadikan akuntan perusahaan dapat menyediakan informasi keuangan bagi setiap tingkatan manajemen, para pemilik atau pemegang saham, kreditur dan para pemakai laporan keuangan lain. Sistem akuntansi tersebut dapat digunakan oleh manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan operasi perusahaan sehingga dapat mencapai sasaran dan menjamin atau menyediakan laporan keuangan yang tepat.
2.1.2 Pengertian Penjualan
Secara umum penjualan dapat dibagi dua yaitu penjualan tunai dan penjualan kredit. Penjualan tunai terjadi apabila pengiriman barang diikuti dengan adanya penyerahan uang tunai sepenuhnya atau pembayaran kontan oleh pembeli sedangkan penjualan kredit terjadi apabila pelanggan meminta tenggang waktu atau perusahaan memberikan tenggang waktu antara penyerahan barang dengan penerimaan pembayaran.
Dari pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa penjualan adalah suatu kegiatan utama perusahaan yang dapat menyebabkan timbulnya pendapatan ataupun piutang dagang. Penjualan juga merupakan suatu transaksi usaha yang meliputi penyerahan barang ataupun jasa kepada pelanggan yang ditukarkan dengan alat pembayaran yang sah. Berikut ini adalah pengertian penjualan tunai dan penjualan kredit menurut beberapa ahli:
Pengertian Penjualan Tunai Menurut Holmes dan Burns (1994:162)
“Penjualan Tunai adalah pemisah tugas yang terkait dengan penjualan tunai pengolahan sering membutuhkan satu orang melakukan penjualan dan orang kedua menerima pembayaran dan menghadiri dengan melakukan perubahan. dan Penjual mencatat penjualan.”
Pengertian Penjualan Kredit Menurut Alan R. (1994:121)
“Penjualan Kredit adalah penjualan harta benda berdasarkan rencana pembayaran yang ditangguhkan, dimana pihak penjual menerima uang muka dan sisanya dalam bentuk pembayaran selama beberapa waktu.
Dari pernyataan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa penjuala adalah merupakan suatu kegiatan utama perusahaan yang dapat mendatangkan keutungan yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu penjua dan pembeli yang dapat dilakukan secara tunai ataupun secara kredit.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis mengambil objek penelitian yaitu PD.Kalibata yang beralokasikan di Jln.Raya Bogor Km,29 kel Tugu palsigunung. perusahaan yang berdiri di awal tahun 1997, adalah salah satu perusahaan dagang yang bergerak dalam bidang penjualan kosmetik, berkantor pusat di Jakarta. adapun kosmetik yang menjadi objek penjualan perusahaan ini ada 9 macam merk barang diantaranya, cussons, akachan, janson & janson, charm, pigeon, marina, pex baby, maybelin, aubeau. Aktivitas sistem penjualan ini meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penjualan barang. Bagian penjualan mengenalkan produk-produk perusahaan kepada pelanggan dan melakukan penawaran barang tersebut kepada pelanggan. setelah mendapat pesanan barang dari pelanggan maka bagian penjualan akan berkoordinasi dengan bagian gudang mengenai persediaan barang yang dipesan, bila persediaan ada maka barang langsung dikirim.
Aktivitas distributor juga meliputi seluruh kegiatan di bagian penjualan dan pengelolaan barang digudang untuk persediaan barang dari supplier. Bagian penjualan harus mencatat seluruh kejadian distribusi yang terjadi antar bagian penjualan maupun dengan bagian gudang. Bila persediaan barang digudang menipis atau habis. Bagian gudang dapat melaukan permohonan pembelian barang kebagian pembelian setelah berkoordinasi dengan bagian penjualan untuk mencegah terjadinya pembelian barang yang tidak diperlukan. Aktivitas akuntansi dan keuangan meliputi kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pelaporan akuntansi umum, akuntansi persediaan, akuntansi biaya, keuangan kas besar dank as kecil, keuangan bank, keuangan hutang, keuangan piutang dan penggajian. Adapun di perusahaan bagian personalia dan umum meliputi kegiatan di bidang personalia dan kegiatan yang bersifat umum. Bagian personalia mengkoordinasikan kegiatan yang berhubungan dengan kepegawaian.
3.2 Data / Variabel
Data primer atau variable pokok yang digunakan adalah data rincian penjualan, serta nformasi yang didapat melalui observasi dan wawancara kepada staff akuntansi keuangan. Data rincian penjualan antara lain data transaksi penjualan selama 1 bulan, bagian struktur organisasi dan uraian tugas, customer order, shipping document, penyesuian penjualan, faktur penjualan dan bukti setor Bank.
Sedangkan informasi yang didapat dari staff keuangan diantaranya metode pencatatan yang digunakan serta informasi lainnya yang berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan.
Selain data primer, data lain yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data pembantu yang digunakan sebagai bahan untuk menetapkan kerangka teori.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari analisis dan penjelasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara keseluruhan hubungan antara penerapan dan pengaruhnya terhadap prosedur sistem penjualan telah diterapkan dengan cukup baik, walaupun masih terdapat kekurangannya tapi dengan menerapkan sistem penjualan kekurangan tersebut akan dapat tertutupi. Menerapkan prosedur yang sudah ada pada penjualan tunai / kredit maka perusahaan dapat melihat keadaan penjualan dari suatu sistem yang sudah dibuat.
2. Unsur-unsur sistem penjualan tunai / kredit pada PD.KALIBATA yang pertama adalah struktur organisasi, unsur yang kedua sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang digambarkan melalui bagian alir dokumen (flowchart) sistem penjualan tunai / kredit. Unsur yang ketiga praktik yang sehat dan unsur yang keempat adalah karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya. Prosedur penjualan yang sudah ada sangat membantu dalam memperbaiki sistem yang belum ada pada perusahaan.
3. Sistem penjualan suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuan seluruh usaha pada umumnya, untuk meningkatkan penjualan yang dapat menghasilkan laba dengan penawaran kebutuhan yang memuaskan kepada pelanggan atau pasar dalam jangka waktu yang panjang. Sistem penjualannya terbagi menjadi dua ada penjualan secara tunai dan penjualan secara keredit. Keduanya sudah mempunyai prosedur akan tetapi sistem pada perusahaan tersebut belum ada, maka dari prosedur yang sudah ada dibuatlah sistem penjualan tunai / kredit.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan yang mungkin dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam memperbaiki kinerja perusahaan demi terciptanya tujuan perusahaan dalam memperoleh laba yang maksimal, oleh sebab itu maka penulis ingin memberikan saran-saran dan pandangan-pandangan antara lain :
1. Perusahaan sebaiknya memisahkan fungsi penjualan dengan fungsi kas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem penjualan tunai yang lebih terorganisir, karena kemungkinan terjadinya kecurangan dapat dihindari.
2. Penerapan struktur pengendalian intern pada pegawai yang bermutu ditingkatkan lagi dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi para karyawan agar karyawan dapat menyelesaikan tanggung jawabnya dengan tuntutan perkembangan perkerjaannya.
3. Dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya, kedisiplinan kerja dan loyalitas yang tinggi dari pimpinan dan karyawannya hendaknya semakin ditingkatkan menurut fungsi dan tanggung jawabnya agar hasil kerja yang dicapai lebih memuaskan.
4. Walaupun penerapan sistem penjualan tunai yang diterapkan oleh perusahaan telah cukup baik, tetapi mungkin penjualan secara kredit belum cukup baik karna terkadang banyak pembayaran yang macet di luar sana. Sebaiknya pihak manajemen terus mengawasi pelaksanaan sistem penjualan secara tunai maupun kredit agar tetap menjamin terlaksananya praktik yang sehat pada transaksi penjualan tunai / kredit dan agar pimpinan dan karyawannya dapat bekerja sama dengan baik dan pekerjannya dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.
5. Pengendalian penjualan PD.KALIBATA yang masih sederhana dapat ditingkatkan dengan sistem penjualan secara komputerisasi sehingga memudahkan karyawan untuk melaksanakan kegiatan penjualannya.
ABSTRAKS
Dewi Novi Handayani (20207307)
Dewiwie83@yahoo.com
“ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN INTERN PENJUALAN PADA PD.KALIBATA”
PI Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma 2010
Kata Kunci : Sistem Pengendalian Intern,Sistem Penjualan
(xi + 39 + Lampiran)
Berbagai transaksi usaha dilakukan perusahaan salah satunya transaksi penjualan ke konsumen, transaksi penjualan perlu dikelola dengan sebaik mungkin.
Maka perlu diadakan suatu Sistem Penjualan, tujuannya untuk mengelola perusahaan, dan dibuat suatu prosedur yang ada dalam perusahaan kemudian dari prosedur tersebut kita dapat merancang sebuah sistem penjualan dan dapat mengetahui kelebihan, kekurangganya dari sistem penjualan.
Dengan dilaksanakannya sistem penjualan pada perusahaan, maka diharapkan perusahaan akan dapat menjaga perusahaan, mengecek ketelitian, keandalan data akuntansi, serta untuk mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen perusahaan tersebut, sehingga akan tercipta sebuah sistem yang andal dan dapat bertanggung jawabkan kebenarannya.
Dengan terciptanya sistem yang andal maka berpengaruh terhadap Sistem penjualan pada perusahaan tersebut. penjualan pada perusahaan akan meningkat, dengan kata lain sistem penjualan juga dapat lebih meningkatkan penjualan pada perusahaan.
Daftar Pustaka (2000-2008)
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dewasa ini, mendukung kelancaran perkembangan usaha perusahaan, sehinga data transaksi dapat diolah dan di laporkan dengan cepat. Akibatnya keputusan yang diambil dapat lebih cepat. Berbagai transaksi usaha dilakukan perusahaan salah satunya transaksi penjualan ke konsumen, transaksi penjualan ke konsumen perlu di kelola dengan sebaik mungkin. Maka perlu diadakan suatu sistem pengendalian intern, tujuannya adalah untuk mengamankan harta kekayaan perusahaan dari pemborosan, kecurangan dan tidak efisienan, mengakibatkan ketelitian dan dapat di percayainya data akuntansi, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong akan kepatuhan terhadap kebijakan pemimpin.
Dengan dilaksanakannya sistem pengendalian intern penjualan ini, maka diharapkan perusahaan akan menjaga kekayaan perusahaan, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, serta untuk mendorong efesiensi dan di patuhinya kebijakan manajemen perusahaan tersebut, sehingga akan tercipta sebuah sistem yang andal dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Perusahaan membutuhkan sistem yang akan berperan dalam pemrosesan dan pengolahan data penjualan, yaitu sistem akuntansi penjualan.sistem akuntansi tersebut bertujuan untuk mendukung aktivitas bisnis perusahaan dalam mengelola, memproses data transaksi secara efektif dan efisien. Sistem akuntansi yang disusun untuk suatu perusahaan dapat di proses dengan cara manual atau di proses dengan menggunakan mesin-mesin mulai dengan mesin pembukuan yang sederhana.
Sistem penjualan sangat berperan dalam omset penjualan dan mencari pangsa pasar yang lebih luas, karena akan membantu manajemen perusahaan dalam menyediakan informasi yang berkaitan dengan semua kegiatan perusahaan.perusahaan harus dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang akan dihadapi oleh perusahaan dengan menetapkan kebijakan-kebijakan yang tepat dalam menghadapi persaingan bisnis. Manajer penjualan yang berperan sebagai perencanaan, koordinasi, dan pengendalian kegiatan, sangat memerlukan informasi kegiatan penjualan dan keadaan keuangan perusahaan. Pemakai informasi dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu ekstern dan intern.
Dengan pengendalian intern yang baik ini diharapkan data penjualan yang benar dan dapat dipercaya sehingga informasi penjualan tersebut dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. dengan begitu, sistem penjualan yang didukung oleh pengendalian intern yang baik, diharapkan akan menghasilkan informasi yang nantinya sangat membantu manajer dalam mengambil kebijakan perusahaan dalam upaya meningkatkan omset penjualan.
Mengingat pentingnya sistem penjualan bagi perusahaan maka perlu dilihat kembali sistem yang telah ditetapkan. sistem penjualan harus dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan.sistem penjualan harus mengikuti prosedur yang ada agar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan, yaitu kebutuhan informasi penjualan.
Dengan adanya berbagai masalah yang dihadapi oleh perusahaan dalam pelaksanaan sistem penjualan, maka pelaksanaan sistem penjualan diperlukan beberapa perbaikan-perbaikan sehingga akan mampu menghasilkan informasi yang akurat, yang nantinya akan berguna bagi manajemen perusahaan dalam pengambilan perusahaan.
Untuk memberikan nilai suatu barang, perusahaan dapat mengunakan metode harga jual, dengan cara melihat biaya produksi, tingkat kepuasan suatu konsumen dan tingkat penjualan produk tersebut. Maka perusahaan dapat menetukan kwantitas dan kwalitas barang tersebut. Dengan demkian perusahaan tersebut dapat melihat laba/rugi produk tersebut.
Dengan terciptanya sebuah sistem yang andal maka berpengaruh terhadap penjualan pada perusahaan tersebut, penjualan pada perusahaan akan meningkat, dengan kata lain sistem pengendalian intern juga dapat meningkatkan penjualan pada perusahaan atas dasar uraian diatas maka penulis menyusun penulisan ilmiah ini dengan judul “Analisis Sistem Pengendalian Intern Penjualan Pada PD.KALIBATA ”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, penulis dirumuskan masalah dalam penulisan ilmiah ini adalah:
1. Bagaimana penerapan sistem penjualan pada PD.KALIBATA
2. Bagaimana sistem penjualan PD.KALIBATA, apakah sudah sesuai dengan Sistem Informasi Akuntansi
1.3 Batasan Masalah
Mengingat terlalu luasnya pembahasan mengenai sistem penjualan maka dalam penulisan ini hanya dibatasi pada suatu prosedur penjualan tunai / kredit dan dibuat rancangan sistem penjualan.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui penerapan sistem penjualan pada PD.KALIBATA.
2. Mengetahui sistem penjualan PD.KALIBATA sesuai dengan Sistem Informasi Akuntansi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Akuntansi
Sistem akuntansi didefinisikan sebagai elemen struktur pengendalian sebagai metode dan pencatatan yang ditetapkan untuk mengidentifikasikan, menganalisis, mengklarifikasikan, mencatat dan melaporkan transaksi perusahaan serta mempertahankan tanggung jawab untuk dipercayanya atas aktiva dan hutang. berikut ini adalah pengertian sistem akuntansi menurut beberapa ahli :
Pengertian Sistem Akuntansi Menurut Mulyadi (2001:3)
“Sistem Akuntansi adalah organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasi sedemikian rupa untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan oleh manajemen guna memudahkan pengelolaan perusahaan’
Pengertian Sistem Akuntansi Menurut Widjajanto (2001:4)
“Sistem Akuntansi adalah susunan berbagi formulir, catatan, peralatan, termasuk computer dan perlengkapan serta alat komunikasi, tenaga pelaksanaannya dan laporan yang terkodinasi secara erat yang didisain untuk mentraformasikan data keuangan menjadi informasi yang dibutuhkan manajemen”
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa sistem akuntansi merupakan suatu prosedur yang digunakan dalam menyampaikan data kegiatan perusahaan teruatama yang berhubungan dengan informasi keuangan kepada pihak yang berkepentingan. Adapun unsur dari sistem akuntansi formulir, catatan, peralatan yang digunakan untuk mengolah data dalam mengahasilkan informasi keuangan yang diperlukan oleh manajemen.
Sistem Akuntansi yang efektif harus memenuhi :
a. Mengidentifikasikan dan mencatat transaksi yang valid.
b. Ketetapan waktu dalam pencatatan transaksi dan pengklarifikasian dalam pelaporan keuangan.
c. Pengukuran nilai transaksi dan mencatat dalam nilai yang tepat dalam laporan keuangan.
d. Menunjukan periode transaksi tersebut terjadi dan mencatatnya dalam periode yang benar.
e. Menyajikan secara tepat transaksi dan yang berhubungan dengan pengungkapannya dalam laporan keuangan.
Bukti transaksi harus ada, karena merupakan fokus dari sistem akuntansi. transaksi meliputi pertukaran aktiva dan jasa diantara kesatuan bisnis dengan pihak luar. Sistem akuntansi perusahaan seharusnya menyediakan/ mempunyai kelengkapan transaksi atau “audit trail” untuk setiap transaksi. Audit trail adalah rantai penyedian bukti dengan kode, perhitungan dan dokumentasi yang dihubungkan dengan saldo dan hasil iktisar dari data keuangan asli.
2.1.1 Manfaat Sistem Akuntansi
Pada hakekatnya perusahaan mempunyai fungsi pada sistem akuntansi, setiap sistem akuntansi akan melaksanakan lima fungsi utamanya yaitu :
a. Mengumpulkan dan menyimpan data dari semua aktivitas dan transaksi perusahaan.
b. Memproses data menjadi informasi yang berguna pihak manajemen.
c. Manajemen data-data yang ada kedalam kelompok-kelompok yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.
d. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga aset dari suatu organisasi atau perusahaan terjaga.
e. Penghasil informasi yang menyediakan informasi yang cukup bagi pihak manajemen untuk melakukan perencanaan, mengeksekusi perencanaan, dan mengkontrol aktivitas.
Dengan adanya mafaat sistem akuntansi yang memadai, menjadikan akuntan perusahaan dapat menyediakan informasi keuangan bagi setiap tingkatan manajemen, para pemilik atau pemegang saham, kreditur dan para pemakai laporan keuangan lain. Sistem akuntansi tersebut dapat digunakan oleh manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan operasi perusahaan sehingga dapat mencapai sasaran dan menjamin atau menyediakan laporan keuangan yang tepat.
2.1.2 Pengertian Penjualan
Secara umum penjualan dapat dibagi dua yaitu penjualan tunai dan penjualan kredit. Penjualan tunai terjadi apabila pengiriman barang diikuti dengan adanya penyerahan uang tunai sepenuhnya atau pembayaran kontan oleh pembeli sedangkan penjualan kredit terjadi apabila pelanggan meminta tenggang waktu atau perusahaan memberikan tenggang waktu antara penyerahan barang dengan penerimaan pembayaran.
Dari pernyataan tersebut maka dapat dikatakan bahwa penjualan adalah suatu kegiatan utama perusahaan yang dapat menyebabkan timbulnya pendapatan ataupun piutang dagang. Penjualan juga merupakan suatu transaksi usaha yang meliputi penyerahan barang ataupun jasa kepada pelanggan yang ditukarkan dengan alat pembayaran yang sah. Berikut ini adalah pengertian penjualan tunai dan penjualan kredit menurut beberapa ahli:
Pengertian Penjualan Tunai Menurut Holmes dan Burns (1994:162)
“Penjualan Tunai adalah pemisah tugas yang terkait dengan penjualan tunai pengolahan sering membutuhkan satu orang melakukan penjualan dan orang kedua menerima pembayaran dan menghadiri dengan melakukan perubahan. dan Penjual mencatat penjualan.”
Pengertian Penjualan Kredit Menurut Alan R. (1994:121)
“Penjualan Kredit adalah penjualan harta benda berdasarkan rencana pembayaran yang ditangguhkan, dimana pihak penjual menerima uang muka dan sisanya dalam bentuk pembayaran selama beberapa waktu.
Dari pernyataan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa penjuala adalah merupakan suatu kegiatan utama perusahaan yang dapat mendatangkan keutungan yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu penjua dan pembeli yang dapat dilakukan secara tunai ataupun secara kredit.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis mengambil objek penelitian yaitu PD.Kalibata yang beralokasikan di Jln.Raya Bogor Km,29 kel Tugu palsigunung. perusahaan yang berdiri di awal tahun 1997, adalah salah satu perusahaan dagang yang bergerak dalam bidang penjualan kosmetik, berkantor pusat di Jakarta. adapun kosmetik yang menjadi objek penjualan perusahaan ini ada 9 macam merk barang diantaranya, cussons, akachan, janson & janson, charm, pigeon, marina, pex baby, maybelin, aubeau. Aktivitas sistem penjualan ini meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penjualan barang. Bagian penjualan mengenalkan produk-produk perusahaan kepada pelanggan dan melakukan penawaran barang tersebut kepada pelanggan. setelah mendapat pesanan barang dari pelanggan maka bagian penjualan akan berkoordinasi dengan bagian gudang mengenai persediaan barang yang dipesan, bila persediaan ada maka barang langsung dikirim.
Aktivitas distributor juga meliputi seluruh kegiatan di bagian penjualan dan pengelolaan barang digudang untuk persediaan barang dari supplier. Bagian penjualan harus mencatat seluruh kejadian distribusi yang terjadi antar bagian penjualan maupun dengan bagian gudang. Bila persediaan barang digudang menipis atau habis. Bagian gudang dapat melaukan permohonan pembelian barang kebagian pembelian setelah berkoordinasi dengan bagian penjualan untuk mencegah terjadinya pembelian barang yang tidak diperlukan. Aktivitas akuntansi dan keuangan meliputi kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan dan pelaporan akuntansi umum, akuntansi persediaan, akuntansi biaya, keuangan kas besar dank as kecil, keuangan bank, keuangan hutang, keuangan piutang dan penggajian. Adapun di perusahaan bagian personalia dan umum meliputi kegiatan di bidang personalia dan kegiatan yang bersifat umum. Bagian personalia mengkoordinasikan kegiatan yang berhubungan dengan kepegawaian.
3.2 Data / Variabel
Data primer atau variable pokok yang digunakan adalah data rincian penjualan, serta nformasi yang didapat melalui observasi dan wawancara kepada staff akuntansi keuangan. Data rincian penjualan antara lain data transaksi penjualan selama 1 bulan, bagian struktur organisasi dan uraian tugas, customer order, shipping document, penyesuian penjualan, faktur penjualan dan bukti setor Bank.
Sedangkan informasi yang didapat dari staff keuangan diantaranya metode pencatatan yang digunakan serta informasi lainnya yang berkaitan dengan kegiatan operasional perusahaan.
Selain data primer, data lain yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder adalah data pembantu yang digunakan sebagai bahan untuk menetapkan kerangka teori.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari analisis dan penjelasan pada bab sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara keseluruhan hubungan antara penerapan dan pengaruhnya terhadap prosedur sistem penjualan telah diterapkan dengan cukup baik, walaupun masih terdapat kekurangannya tapi dengan menerapkan sistem penjualan kekurangan tersebut akan dapat tertutupi. Menerapkan prosedur yang sudah ada pada penjualan tunai / kredit maka perusahaan dapat melihat keadaan penjualan dari suatu sistem yang sudah dibuat.
2. Unsur-unsur sistem penjualan tunai / kredit pada PD.KALIBATA yang pertama adalah struktur organisasi, unsur yang kedua sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang digambarkan melalui bagian alir dokumen (flowchart) sistem penjualan tunai / kredit. Unsur yang ketiga praktik yang sehat dan unsur yang keempat adalah karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggungjawabnya. Prosedur penjualan yang sudah ada sangat membantu dalam memperbaiki sistem yang belum ada pada perusahaan.
3. Sistem penjualan suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk mencapai tujuan seluruh usaha pada umumnya, untuk meningkatkan penjualan yang dapat menghasilkan laba dengan penawaran kebutuhan yang memuaskan kepada pelanggan atau pasar dalam jangka waktu yang panjang. Sistem penjualannya terbagi menjadi dua ada penjualan secara tunai dan penjualan secara keredit. Keduanya sudah mempunyai prosedur akan tetapi sistem pada perusahaan tersebut belum ada, maka dari prosedur yang sudah ada dibuatlah sistem penjualan tunai / kredit.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis berikan yang mungkin dapat bermanfaat bagi perusahaan dalam memperbaiki kinerja perusahaan demi terciptanya tujuan perusahaan dalam memperoleh laba yang maksimal, oleh sebab itu maka penulis ingin memberikan saran-saran dan pandangan-pandangan antara lain :
1. Perusahaan sebaiknya memisahkan fungsi penjualan dengan fungsi kas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan sistem penjualan tunai yang lebih terorganisir, karena kemungkinan terjadinya kecurangan dapat dihindari.
2. Penerapan struktur pengendalian intern pada pegawai yang bermutu ditingkatkan lagi dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi para karyawan agar karyawan dapat menyelesaikan tanggung jawabnya dengan tuntutan perkembangan perkerjaannya.
3. Dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya, kedisiplinan kerja dan loyalitas yang tinggi dari pimpinan dan karyawannya hendaknya semakin ditingkatkan menurut fungsi dan tanggung jawabnya agar hasil kerja yang dicapai lebih memuaskan.
4. Walaupun penerapan sistem penjualan tunai yang diterapkan oleh perusahaan telah cukup baik, tetapi mungkin penjualan secara kredit belum cukup baik karna terkadang banyak pembayaran yang macet di luar sana. Sebaiknya pihak manajemen terus mengawasi pelaksanaan sistem penjualan secara tunai maupun kredit agar tetap menjamin terlaksananya praktik yang sehat pada transaksi penjualan tunai / kredit dan agar pimpinan dan karyawannya dapat bekerja sama dengan baik dan pekerjannya dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.
5. Pengendalian penjualan PD.KALIBATA yang masih sederhana dapat ditingkatkan dengan sistem penjualan secara komputerisasi sehingga memudahkan karyawan untuk melaksanakan kegiatan penjualannya.
Jurnal tentang CSR
JUrnal tentang CSR(Tuntas memahami pelaporan aspek nonfinansial)
Tuntas Memahami Pelaporan Aspek Nonfinansial
Perusahaan
Judul Reporting Nonfinancials
Penulis Kaevan Gazdar
Penerbit John Wiley and Sons, Ltd., 2007
Halaman xiv+331
Jalal
Aktivis Lingkar Studi CSR
www.csrindonesia.com
“If people cannot accurately know their world,
how can be they expected to act wisely in it”
Walter Lippman
“...reporting solely on financial performance
provides a seriously incomplete picture of a company’s prospects,
especially as intangibles now make up higher proportion
of corporate value than ever before.”
Sir Mark Moody-Stuart, Foreword
Setiap tahun, ada waktu ketika berbagai media massa
cetak kita dihujani dengan laporan-laporan keuangan
dari perusahaan. Di situ terlihat apakah perusahaan
yang melaporkannya mengalami kerugian atau
keuntungan, berapa apa saja komponen yang
menyumbang pada kerugian/keuntungan itu beserta
masing-masing jumlahnya, dan juga perbandingan
kinerja finansialnya sekarang dibandingkan tahun
sebelumnya.
Dalam catatan sejarah bisnis, pelaporan kinerja
finansial sudah berumur setidaknya 500 tahun.
Seorang biarawan Ordo Fransiskan bernama Luca
Pacioli memulainya ketika memperkenalkan
pembukuan debit dan kredit di tahun 1494.
Kapitalisme modern, menurut ekonom kenamaan
Jerman Warner Sombart, tumbuh pesat setelahnya
dan tidak pernah bisa dipisahkan dengan
pembukuan itu (h. 14). Dengan catatan selama itu,
tidak mengherankan apabila bentuk pelaporan aspek
finansial dari bisni sudah sangat terstandarkan, dan
hampir semua perusahaan besar sudah sangat fasih
melakukannya.
Namun, 10-20 tahun belakangan, laporan kinerja
keuangan saja sudah dianggap tidak lagi memadai.
Kini para investor menuntut perusahaan juga
melaporkan hal-hal seperti kualitas tata
pemerintahan, hubungan dengan pekerja,
manajemen kualitas, pangsa pasar, dan sebagainya.
Hal-hal tersebut dalam pandangan Sir Mark Moody-
Stuart, chairperson UN Global Compact Foundation,
sangatlah penting untuk menilai perusahaan dan
prospeknya di masa mendatang (h. xi). Dua
anekdot berikut menggambarkan hal itu. Pertama,
nilai jual Microsoft sekarang diperkirakan mencapai
25 kali lipat nilai bukunya. Ini berarti faktor-faktor
lain—kerap disebut sebagai intangibles—
menyumbang 24 kali lipat dibandingkan nilaiperusahaan
yang bisa dibukukan. Kedua, Arnold
Schwarzenegger pernah menyatakan bahwa ”My
favourite fiction writers...are studio accountants.” (h. 18).
Betapa tidak? Di Hollywood, nilai sebenarnya dari
sebuah film utamanya tidaklah bergantung dari
jumlah dolar yang digelontorkan studio, tetapi lebih
oleh sutradara dan para bintangnya. Sayangnya,
pelaporan aspek finansial tidaklah bisa melihat hal
itu sama sekali. Sutradara dan bintang memang tidak
bisa dimasukkan ke dalam pembukuan yang
diciptakan oleh Pacioli. Jadi, sangat wajar kalau kini
para investor juga ingin mengetahui berbagai aspek
nonfinansial dari investasinya.
Sementara, para pemangku kepentingan lainnya yang
semakin berpengaruh atas sukses atau tidaknya—
bahkan di antara mereka ada yang mampu
menentukan mati hidupnya—perusahaan memiliki
tuntutan yang berbeda-beda. Pemerintah, LSM,
masyarakat luas, dan lainnya menginginkan
perusahaan semakin menjadi transparen dan
akuntabel terhadap kinerja nonfinansial mereka.
Menguatnya paradigma pembangunan berkelanjutan
dan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan atau
CSR membuat pelaporan kinerja sosial dan
lingkungan perusahaan dianggap sama pentingnya
dengan pelaporan kinerja ekonomi.
Masalah terbesarnya adalah bahwa mutu laporanlaporan
nonfinansial memang belumlah sebaik mutu
laporan finansial. Selain usianya yang terpaut jauh
(>500 vs. 10-20 tahun), kesenjangan di antara
keduanya ditandai oleh derajat keformalan, pihak
yang dituju, serta interval laporan. Formalisasi
laporan finansial sudah sangat jelas, dengan
munculnya GAAP, IFRS serta standar-standar
pelaporan di setiap negara. Hampir seluruhnya
sudah bersifat mengikat secara hukum. Sementara,
laporan nonfinansial paling komprehensifpun—yaitu
standar dari Global Reporting Initiative (GRI)—
masih bersifat sukarela. Perusahaan-perusahaan
yang tidak mengikuti standar GRI telah
menunjukkan ragam yang luar biasa dalam format
laporan nonfinansialnya. Kalau laporan finansial
terutama ditujukan pada investor dan lembaga yang
mengatur investasi dalam suatu negara, laporan
nonfinansial ditujukan untuk seluruh pemangku
kepentingan (termasuk pula investor).
Konsekuensinya, cara pelaporannya akan menjadi
sangat beragam sesuai dengan pemangku
kepentingan yang dituju. Terakhir, laporan keuangan
finansial memiliki interval yang tetap yaitu tahunan
dan kuartalan, sementara laporan nonfinansial
biasanya berupa laporan setahunan atau dua
tahunan, bahkan tidak tetap.
Buku karya Kaevin Gazdar ini dengan sangat
komprehensif memaparkan seluruh hal berkaitan
dengan pelaporan aspek-aspek nonfinansial itu, dan
utamanya bertujuan untuk menjembatani
kesenjangan antara pelaporan finansial dengan yang
nonfinansial. Kesenjangan itu, menurut John
Elkington—orang yang terkenal karena
mempopularkan istilah triple bottom line—kondisinya
sangat memprihatinkan. Sebagaimana yang dikutip
Gazdar di halaman 17-18, Elkington menilai bahwa
secara umum pelaporan finansial sudah bisa beroleh
nilai 8 dari 10, sementara laporan aspek lingkungan
bernilai 3-4, dan aspek sosial bernilai 1-2. Untuk
keperluan mendorong peningkatan mutu laporan
nonfinansial ini, Gazdar menyusun bukunya menjadi
tiga bagian, yaitu The Why (2 bab), The What (4 bab)
dan The How (2 bab).
Dalam The Why, ia menyatakan ada empat hal yang
membuat mengapa pelaporan nonfinansial ini
menjadi sangat penting: Pertama, meningkatkan
reputasi perusahaan. Semakin transparen perusahaan
dalam aspek-aspek yang dituntut oleh seluruh
pemangku kepentingannya, semakin tinggi pulalah
reputasi perusahaan. Tentu saja, kalau kinerja yang
dilaporkan itu baik dan valid. Karenanya,
perusahaan harus terlebih dahulu meningkatkan
kinerjanya dengan sungguh-sungguh. Validitas juga
sangat penting, karena pemangku kepentingan tidak
akan pernah memaafkan perusahaan yang
melakukan pembohongan publik.
Kedua, melayani tuntutan pemangku kepentingan.
Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang
terpengaruh oleh dan bisa memengaruhi perusahaan
dalam mencapai tujuannya. Tentu saja, mereka yang
terpengaruh hidupnya oleh perusahaan berhak
untuk mengetahui aspek-aspek yang bersentuhan
dengan kehidupan mereka. Mereka yang bisa
memengaruhi perusahaan sangat perlu untuk
mendapat informasi yang benar, sehingga pengaruh
mereka bisa diarahkan ke tujuan yang tepat.
Ketiga, membantu perusahaan dalam membuat
berbagai keputusan. Laporan kinerja yang baik tentu
saja akan memuat indikator-indikator yang akan
membantu perusahaan melihat kekuatan dan
kelemahan dirinya. Perusahaan bisa sedikit lebih
tenang dalam aspek yang indikator-indikatornya
menunjukkan kekuatan. Di sisi lain, perusahaan
perlu mencurahkan sumberdaya yang lebih besar
untuk aspek-aspek yang tampak masih lemah.
Laporan periodik dengan indikator yang konsisten
sangat diperlukan di sini, sehingga naik turunnya
kinerja bisa terpantau dan disikapi dengan keputusan
yang tepat.
Keempat, membuat investor dengan mudah
memahami kinerja perusahaan. Sebagaimana yang
sudah diungkapkan di atas, ada kebutuhan yang
semakin tinggi dari investor untuk bisa mengetahui
kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Para
investor jangka panjang benar-benar ingin
mengetahui apakah modal yang ditanamkannya
aman atau tidak. Perusahaan-perusahaan yang
memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang tinggi
memiliki kemungkinan yang lebih baik untuk terus
berlanjut usahanya, dan para investor tentu lebih
berminat untuk menanamkan modalnya pada
perusahaan-perusahaan tersebut.
Gazdar kemudian bergerak menjelaskan empat
komponen pelaporan nonfinansial dalam The What.
Ia menganjurkan para perusahaan untuk
mengadopsi klasifikasi empat hal yang termasuk
aspek nonfinansial, yaitu competitive value, management
value, human resources value, dan ethical value. Setiap
aspek itu ia jelaskan dalam satu bab. Kategori
competitive value mencakup konsumen, merek dan
pasar. Management value mencakup strategi
perusahaan, mekanisme dan proses dalam tata kelola
perusahaan, serta kemampuan untuk meramalkan
kecenderungan dan kinerja perusahaan di masa
mendatang. Dalam human resources value, hal-hal
terkait produktivitas, motivasi dan potensi tenaga
kerja harus dibahas. Sementara, ethical value
mencakup CSR, keberlanjutan dan dialog dengan
pemangku kepentingan.
Seluruh hal di atas dibahas dengan komprehensif.
Gazdar memaparkan contoh-contoh indikator
kualitatif dan kuantitatif yang bisa dipergunakan
untuk memantau perkembangan masing-masing
value, untuk kemudian dilaporkan. Catatan yang
penting mungkin bisa diberikan pada ethical value.
Gazdar berpendirian bahwa CSR berkonotasi aspek
sosial, sementara keberlanjutan berarti aspek
lingkungan, dan pemangku kepentingan penting
untuk diajak “berdialog“. Baginya CSR berarti
kebijakan sosial, dampak sosial, investasi untuk
program-program komunitas dan citra sebagai
corporate citizen. Pada bagian ini, pendirian Gazdar
sama sekali bukan arus utama. CSR oleh banyak
pihak sudah diterima sebagai konsep yang mencakup
tiga ranah: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Demikian juga, istilah sustainability atau keberlanjutan
juga mengacu pada tiga ranah, bukan sekadar aspek
lingkungan (bdk. Hopkins, M. 2007. Corporate Social
Responsibility and International Development. Earthscan,
London). Istilah untuk hubungan dengan pemangku
kepentingan yang semakin banyak dipergunakan
adalah stakeholder engagement, yang di antaranya
mencakup juga stakeholder dialogue. Dialog sejatinya
memang hanya salah satu dari spektrum hubungan
dengan pemangku kepentingan, yang merentang dari
pelacakan hingga kerjasama dalam jaringan (lih.
Gable, C. and Shireman, B. 2005. Stakeholder
Engagement: A Three-Phase Methodology.
Environmental Quality Management, Spring).
Dalam The How, Gazdar menuntun pembacanya agar
bisa membayangkan seluruh proses pelaporan. Di
sini ia pertama-tama menegaskan bahwa empat hal
yang tercakup dalam The What haruslah disesuaikan
dengan prioritas regional. Masing-masing negara
memiliki prioritas yang berbeda dalam melihat
laporan nonfinansial. Mengutip penelitian Alison
Thomas, Gazdar memberi contoh bahwa di Jerman
para pembaca sangat menekankan quality control,
sementara di negara-negara Skandinavia
perbandingan kinerja (benchmark) dalam aspek
lingkungan adalah yang paling penting. Setelah
mempertimbangkan prioritas regional, perusahaan
kemudian harus mentransformasikan kesadaran
untuk melaporkan menjadi tindakan melaporkan.
Untuk itu, dua hal perlu diperhatikan, yaitu
pemangku kepentingan dan laporan itu sendiri.
Berkenaan dengan pemangku kepentingan, Gazdar
kembali menegaskan bahwa pelaporan adalah upaya
untuk meningkatkan standar akuntabilitas
perusahaan, di mana kondisi yang ada sekarang
masihlah rendah. Karena sifat sebagai alat
akuntabilitas itu, ia sangat menekankan agar laporan
nonfinansial dibuat dengan memperhatikan hal-hal
spesifik dan umum yang menjadi perhatian
pemangku kepentingan. Laporan, menurut Gazdar,
adalah medium dialog dengan beragam pemangku
kepentingan. Sehingga, fokus pada isu-isu yang
menjadi perhatian pemangku kepentingan tertentu
harus diimbangi dengan pemaparan yang
komprehensif atas isu-isu yang menjadi perhatian
pemangku kepentingan yang lebih luas.
Berikutnya, Gazdar mendedikasikan satu bab penuh
untuk membicarakan aspek yang sangat teknis
berkaitan dengan penulisan laporan. Ia menegaskan
pentingnya kelengkapan, kredibilitas dan komunikasi
dalam pembuatan laporan, dengan detail masingmasing.
Untuk meningkatkan kemudahan
pembacaan laporan, misalnya, ia memberi contoh
bagaimana informasi yang ada di dalamnya harus
bergerak dari coherent, kemudian compelling, untuk bisa
menghasilkan sifat laporan yang convincing.
Jumlah buku mengenai pelaporan aspek nonfinansial
hingga kini tampaknya memang masih sedikit,
sebagaimana yang tercantum dalam bibliografi yang
dikutip (h. 307-310). Yang cukup banyak adalah
artikel dalam jurnal ilmiah yang mengkritisi berbagai
kecenderungan dari pelaporan, di antaranya
kecenderungan untuk melakukan pengelabuan/
pendongkrakan citra perusahaan serta
kecenderungan untuk meminimumkan akuntabilitas
(lih. Owen, D. 2005. Corporate Social Reporting and
Stakeholder Accountability, the Missing Link. ICCSR
Research Paper Series No. 32). Buku yang tersedia
juga punya kecenderungan tema yang sama (mis.
Crowther, D. 2002. A Social Critique of Corporate
Reporting. Ashgate, Hampshire). Pembaca buku
Gazdar pasti akan menemukan jawaban bagi banyak
kritik itu. Jadi, wajar apabila sumbangan pemikiran
Gazdar dihargai sangat tinggi oleh para pakar CSR.
Profesor Andre Habisch, Pendiri sekaligus Direktur
Center for Corporate Citizenship di Jerman
menyatakan “This path-breaking book firmly steers
nonfinancial reporting into the mainstream of management
practice”. Kiranya kebanyakan pembaca akan
bersetuju dengan pernyataan Habisch. Para
pendukung CSR dan akuntabilitas perusahaan pasti
juga berharap demikian.
Tuntas Memahami Pelaporan Aspek Nonfinansial
Perusahaan
Judul Reporting Nonfinancials
Penulis Kaevan Gazdar
Penerbit John Wiley and Sons, Ltd., 2007
Halaman xiv+331
Jalal
Aktivis Lingkar Studi CSR
www.csrindonesia.com
“If people cannot accurately know their world,
how can be they expected to act wisely in it”
Walter Lippman
“...reporting solely on financial performance
provides a seriously incomplete picture of a company’s prospects,
especially as intangibles now make up higher proportion
of corporate value than ever before.”
Sir Mark Moody-Stuart, Foreword
Setiap tahun, ada waktu ketika berbagai media massa
cetak kita dihujani dengan laporan-laporan keuangan
dari perusahaan. Di situ terlihat apakah perusahaan
yang melaporkannya mengalami kerugian atau
keuntungan, berapa apa saja komponen yang
menyumbang pada kerugian/keuntungan itu beserta
masing-masing jumlahnya, dan juga perbandingan
kinerja finansialnya sekarang dibandingkan tahun
sebelumnya.
Dalam catatan sejarah bisnis, pelaporan kinerja
finansial sudah berumur setidaknya 500 tahun.
Seorang biarawan Ordo Fransiskan bernama Luca
Pacioli memulainya ketika memperkenalkan
pembukuan debit dan kredit di tahun 1494.
Kapitalisme modern, menurut ekonom kenamaan
Jerman Warner Sombart, tumbuh pesat setelahnya
dan tidak pernah bisa dipisahkan dengan
pembukuan itu (h. 14). Dengan catatan selama itu,
tidak mengherankan apabila bentuk pelaporan aspek
finansial dari bisni sudah sangat terstandarkan, dan
hampir semua perusahaan besar sudah sangat fasih
melakukannya.
Namun, 10-20 tahun belakangan, laporan kinerja
keuangan saja sudah dianggap tidak lagi memadai.
Kini para investor menuntut perusahaan juga
melaporkan hal-hal seperti kualitas tata
pemerintahan, hubungan dengan pekerja,
manajemen kualitas, pangsa pasar, dan sebagainya.
Hal-hal tersebut dalam pandangan Sir Mark Moody-
Stuart, chairperson UN Global Compact Foundation,
sangatlah penting untuk menilai perusahaan dan
prospeknya di masa mendatang (h. xi). Dua
anekdot berikut menggambarkan hal itu. Pertama,
nilai jual Microsoft sekarang diperkirakan mencapai
25 kali lipat nilai bukunya. Ini berarti faktor-faktor
lain—kerap disebut sebagai intangibles—
menyumbang 24 kali lipat dibandingkan nilaiperusahaan
yang bisa dibukukan. Kedua, Arnold
Schwarzenegger pernah menyatakan bahwa ”My
favourite fiction writers...are studio accountants.” (h. 18).
Betapa tidak? Di Hollywood, nilai sebenarnya dari
sebuah film utamanya tidaklah bergantung dari
jumlah dolar yang digelontorkan studio, tetapi lebih
oleh sutradara dan para bintangnya. Sayangnya,
pelaporan aspek finansial tidaklah bisa melihat hal
itu sama sekali. Sutradara dan bintang memang tidak
bisa dimasukkan ke dalam pembukuan yang
diciptakan oleh Pacioli. Jadi, sangat wajar kalau kini
para investor juga ingin mengetahui berbagai aspek
nonfinansial dari investasinya.
Sementara, para pemangku kepentingan lainnya yang
semakin berpengaruh atas sukses atau tidaknya—
bahkan di antara mereka ada yang mampu
menentukan mati hidupnya—perusahaan memiliki
tuntutan yang berbeda-beda. Pemerintah, LSM,
masyarakat luas, dan lainnya menginginkan
perusahaan semakin menjadi transparen dan
akuntabel terhadap kinerja nonfinansial mereka.
Menguatnya paradigma pembangunan berkelanjutan
dan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan atau
CSR membuat pelaporan kinerja sosial dan
lingkungan perusahaan dianggap sama pentingnya
dengan pelaporan kinerja ekonomi.
Masalah terbesarnya adalah bahwa mutu laporanlaporan
nonfinansial memang belumlah sebaik mutu
laporan finansial. Selain usianya yang terpaut jauh
(>500 vs. 10-20 tahun), kesenjangan di antara
keduanya ditandai oleh derajat keformalan, pihak
yang dituju, serta interval laporan. Formalisasi
laporan finansial sudah sangat jelas, dengan
munculnya GAAP, IFRS serta standar-standar
pelaporan di setiap negara. Hampir seluruhnya
sudah bersifat mengikat secara hukum. Sementara,
laporan nonfinansial paling komprehensifpun—yaitu
standar dari Global Reporting Initiative (GRI)—
masih bersifat sukarela. Perusahaan-perusahaan
yang tidak mengikuti standar GRI telah
menunjukkan ragam yang luar biasa dalam format
laporan nonfinansialnya. Kalau laporan finansial
terutama ditujukan pada investor dan lembaga yang
mengatur investasi dalam suatu negara, laporan
nonfinansial ditujukan untuk seluruh pemangku
kepentingan (termasuk pula investor).
Konsekuensinya, cara pelaporannya akan menjadi
sangat beragam sesuai dengan pemangku
kepentingan yang dituju. Terakhir, laporan keuangan
finansial memiliki interval yang tetap yaitu tahunan
dan kuartalan, sementara laporan nonfinansial
biasanya berupa laporan setahunan atau dua
tahunan, bahkan tidak tetap.
Buku karya Kaevin Gazdar ini dengan sangat
komprehensif memaparkan seluruh hal berkaitan
dengan pelaporan aspek-aspek nonfinansial itu, dan
utamanya bertujuan untuk menjembatani
kesenjangan antara pelaporan finansial dengan yang
nonfinansial. Kesenjangan itu, menurut John
Elkington—orang yang terkenal karena
mempopularkan istilah triple bottom line—kondisinya
sangat memprihatinkan. Sebagaimana yang dikutip
Gazdar di halaman 17-18, Elkington menilai bahwa
secara umum pelaporan finansial sudah bisa beroleh
nilai 8 dari 10, sementara laporan aspek lingkungan
bernilai 3-4, dan aspek sosial bernilai 1-2. Untuk
keperluan mendorong peningkatan mutu laporan
nonfinansial ini, Gazdar menyusun bukunya menjadi
tiga bagian, yaitu The Why (2 bab), The What (4 bab)
dan The How (2 bab).
Dalam The Why, ia menyatakan ada empat hal yang
membuat mengapa pelaporan nonfinansial ini
menjadi sangat penting: Pertama, meningkatkan
reputasi perusahaan. Semakin transparen perusahaan
dalam aspek-aspek yang dituntut oleh seluruh
pemangku kepentingannya, semakin tinggi pulalah
reputasi perusahaan. Tentu saja, kalau kinerja yang
dilaporkan itu baik dan valid. Karenanya,
perusahaan harus terlebih dahulu meningkatkan
kinerjanya dengan sungguh-sungguh. Validitas juga
sangat penting, karena pemangku kepentingan tidak
akan pernah memaafkan perusahaan yang
melakukan pembohongan publik.
Kedua, melayani tuntutan pemangku kepentingan.
Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang
terpengaruh oleh dan bisa memengaruhi perusahaan
dalam mencapai tujuannya. Tentu saja, mereka yang
terpengaruh hidupnya oleh perusahaan berhak
untuk mengetahui aspek-aspek yang bersentuhan
dengan kehidupan mereka. Mereka yang bisa
memengaruhi perusahaan sangat perlu untuk
mendapat informasi yang benar, sehingga pengaruh
mereka bisa diarahkan ke tujuan yang tepat.
Ketiga, membantu perusahaan dalam membuat
berbagai keputusan. Laporan kinerja yang baik tentu
saja akan memuat indikator-indikator yang akan
membantu perusahaan melihat kekuatan dan
kelemahan dirinya. Perusahaan bisa sedikit lebih
tenang dalam aspek yang indikator-indikatornya
menunjukkan kekuatan. Di sisi lain, perusahaan
perlu mencurahkan sumberdaya yang lebih besar
untuk aspek-aspek yang tampak masih lemah.
Laporan periodik dengan indikator yang konsisten
sangat diperlukan di sini, sehingga naik turunnya
kinerja bisa terpantau dan disikapi dengan keputusan
yang tepat.
Keempat, membuat investor dengan mudah
memahami kinerja perusahaan. Sebagaimana yang
sudah diungkapkan di atas, ada kebutuhan yang
semakin tinggi dari investor untuk bisa mengetahui
kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Para
investor jangka panjang benar-benar ingin
mengetahui apakah modal yang ditanamkannya
aman atau tidak. Perusahaan-perusahaan yang
memiliki kinerja sosial dan lingkungan yang tinggi
memiliki kemungkinan yang lebih baik untuk terus
berlanjut usahanya, dan para investor tentu lebih
berminat untuk menanamkan modalnya pada
perusahaan-perusahaan tersebut.
Gazdar kemudian bergerak menjelaskan empat
komponen pelaporan nonfinansial dalam The What.
Ia menganjurkan para perusahaan untuk
mengadopsi klasifikasi empat hal yang termasuk
aspek nonfinansial, yaitu competitive value, management
value, human resources value, dan ethical value. Setiap
aspek itu ia jelaskan dalam satu bab. Kategori
competitive value mencakup konsumen, merek dan
pasar. Management value mencakup strategi
perusahaan, mekanisme dan proses dalam tata kelola
perusahaan, serta kemampuan untuk meramalkan
kecenderungan dan kinerja perusahaan di masa
mendatang. Dalam human resources value, hal-hal
terkait produktivitas, motivasi dan potensi tenaga
kerja harus dibahas. Sementara, ethical value
mencakup CSR, keberlanjutan dan dialog dengan
pemangku kepentingan.
Seluruh hal di atas dibahas dengan komprehensif.
Gazdar memaparkan contoh-contoh indikator
kualitatif dan kuantitatif yang bisa dipergunakan
untuk memantau perkembangan masing-masing
value, untuk kemudian dilaporkan. Catatan yang
penting mungkin bisa diberikan pada ethical value.
Gazdar berpendirian bahwa CSR berkonotasi aspek
sosial, sementara keberlanjutan berarti aspek
lingkungan, dan pemangku kepentingan penting
untuk diajak “berdialog“. Baginya CSR berarti
kebijakan sosial, dampak sosial, investasi untuk
program-program komunitas dan citra sebagai
corporate citizen. Pada bagian ini, pendirian Gazdar
sama sekali bukan arus utama. CSR oleh banyak
pihak sudah diterima sebagai konsep yang mencakup
tiga ranah: ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Demikian juga, istilah sustainability atau keberlanjutan
juga mengacu pada tiga ranah, bukan sekadar aspek
lingkungan (bdk. Hopkins, M. 2007. Corporate Social
Responsibility and International Development. Earthscan,
London). Istilah untuk hubungan dengan pemangku
kepentingan yang semakin banyak dipergunakan
adalah stakeholder engagement, yang di antaranya
mencakup juga stakeholder dialogue. Dialog sejatinya
memang hanya salah satu dari spektrum hubungan
dengan pemangku kepentingan, yang merentang dari
pelacakan hingga kerjasama dalam jaringan (lih.
Gable, C. and Shireman, B. 2005. Stakeholder
Engagement: A Three-Phase Methodology.
Environmental Quality Management, Spring).
Dalam The How, Gazdar menuntun pembacanya agar
bisa membayangkan seluruh proses pelaporan. Di
sini ia pertama-tama menegaskan bahwa empat hal
yang tercakup dalam The What haruslah disesuaikan
dengan prioritas regional. Masing-masing negara
memiliki prioritas yang berbeda dalam melihat
laporan nonfinansial. Mengutip penelitian Alison
Thomas, Gazdar memberi contoh bahwa di Jerman
para pembaca sangat menekankan quality control,
sementara di negara-negara Skandinavia
perbandingan kinerja (benchmark) dalam aspek
lingkungan adalah yang paling penting. Setelah
mempertimbangkan prioritas regional, perusahaan
kemudian harus mentransformasikan kesadaran
untuk melaporkan menjadi tindakan melaporkan.
Untuk itu, dua hal perlu diperhatikan, yaitu
pemangku kepentingan dan laporan itu sendiri.
Berkenaan dengan pemangku kepentingan, Gazdar
kembali menegaskan bahwa pelaporan adalah upaya
untuk meningkatkan standar akuntabilitas
perusahaan, di mana kondisi yang ada sekarang
masihlah rendah. Karena sifat sebagai alat
akuntabilitas itu, ia sangat menekankan agar laporan
nonfinansial dibuat dengan memperhatikan hal-hal
spesifik dan umum yang menjadi perhatian
pemangku kepentingan. Laporan, menurut Gazdar,
adalah medium dialog dengan beragam pemangku
kepentingan. Sehingga, fokus pada isu-isu yang
menjadi perhatian pemangku kepentingan tertentu
harus diimbangi dengan pemaparan yang
komprehensif atas isu-isu yang menjadi perhatian
pemangku kepentingan yang lebih luas.
Berikutnya, Gazdar mendedikasikan satu bab penuh
untuk membicarakan aspek yang sangat teknis
berkaitan dengan penulisan laporan. Ia menegaskan
pentingnya kelengkapan, kredibilitas dan komunikasi
dalam pembuatan laporan, dengan detail masingmasing.
Untuk meningkatkan kemudahan
pembacaan laporan, misalnya, ia memberi contoh
bagaimana informasi yang ada di dalamnya harus
bergerak dari coherent, kemudian compelling, untuk bisa
menghasilkan sifat laporan yang convincing.
Jumlah buku mengenai pelaporan aspek nonfinansial
hingga kini tampaknya memang masih sedikit,
sebagaimana yang tercantum dalam bibliografi yang
dikutip (h. 307-310). Yang cukup banyak adalah
artikel dalam jurnal ilmiah yang mengkritisi berbagai
kecenderungan dari pelaporan, di antaranya
kecenderungan untuk melakukan pengelabuan/
pendongkrakan citra perusahaan serta
kecenderungan untuk meminimumkan akuntabilitas
(lih. Owen, D. 2005. Corporate Social Reporting and
Stakeholder Accountability, the Missing Link. ICCSR
Research Paper Series No. 32). Buku yang tersedia
juga punya kecenderungan tema yang sama (mis.
Crowther, D. 2002. A Social Critique of Corporate
Reporting. Ashgate, Hampshire). Pembaca buku
Gazdar pasti akan menemukan jawaban bagi banyak
kritik itu. Jadi, wajar apabila sumbangan pemikiran
Gazdar dihargai sangat tinggi oleh para pakar CSR.
Profesor Andre Habisch, Pendiri sekaligus Direktur
Center for Corporate Citizenship di Jerman
menyatakan “This path-breaking book firmly steers
nonfinancial reporting into the mainstream of management
practice”. Kiranya kebanyakan pembaca akan
bersetuju dengan pernyataan Habisch. Para
pendukung CSR dan akuntabilitas perusahaan pasti
juga berharap demikian.
Langganan:
Komentar (Atom)